Mina: Madrasah Kesabaran dan Tempat Menghidupkan Sunnah Ibrahim
28 May 2026 ditinjau oleh Tim Khidmat jejak imani

Di antara tempat yang paling agung dalam perjalanan haji adalah Mina, sebuah lembah yang dipenuhi dzikir, doa, takbir, dan pengorbanan. Di tempat inilah jutaan jamaah bermalam, melempar jumrah, bertakbir setelah shalat, serta menghidupkan jejak Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan keluarga beliau dalam menaati perintah Allah.
Mina bukan sekadar tempat singgah. Ia adalah madrasah ruhiyah yang mengajarkan kesabaran, kebersamaan, dan ketundukan. Di sana manusia belajar bahwa kemuliaan tidak diukur dengan kenyamanan, melainkan dengan kesungguhan dalam ibadah.
Allah Ta‘ala berfirman:
وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ
“Dan berdzikirlah kepada Allah pada hari-hari yang berbilang.” (QS. Al-Baqarah: 203)
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud “hari-hari yang berbilang” adalah hari-hari di Mina, yaitu hari-hari tasyriq.
Imam Ibnu Katsir berkata:
هي أيام التشريق الثلاثة بعد يوم النحر
“Itu adalah tiga hari tasyriq setelah hari Nahr.” (Tafsir Ibnu Katsirl
Di Mina, jamaah diperintahkan memperbanyak dzikir, takbir, tahmid, dan ibadah. Karena itu suasana Mina bukan sekadar kumpulan tenda manusia, tetapi lautan kalimat tauhid yang menggema dari berbagai bangsa dan bahasa.
Rasulullahﷺ sendiri bermalam di Mina dan menjadikannya bagian dari manasik haji. Dalam hadis Jabirرضي الله عنه tentang sifat haji Nabiﷺ disebutkan:
ثم رجع رسول الله ﷺ إلى منى فمكث بها ليالي أيام التشريق
“Kemudian Rasulullahﷺ kembali ke Mina dan tinggal di sana pada malam-malam hari tasyriq.” (HR. Muslim)
Para ulama empat madzhab menjelaskan bahwa mabit di Mina termasuk bagian penting dalam manasik.
Imam An-Nawawi dari madzhab Syafi‘i berkata:
المبيت بمنى ليالي التشريق واجب عندنا
“Mabit di Mina pada malam-malam tasyriq adalah wajib menurut madzhab kami.” (Al-Majmu’)
Dalam madzhab Hanbali, Imam Ibnu Qudamah menjelaskan:
والمبيت بمنى واجب من واجبات الحج
“Mabit di Mina termasuk kewajiban-kewajiban haji.” (Al-Mughni)
Ulama Hanafi, Imam Al-Kasani berkata:
المقام بمنى أيام الرمي من سنن الحج المؤكدة
“Tinggal di Mina pada hari-hari melempar jumrah termasuk sunnah haji yang sangat ditekankan.” (Bada’i‘ ash-Shana’i‘)
Sedangkan ulama Malikiyah juga sangat menekankan amalan ini. Imam Ad-Dardir berkata:
ويطلب المبيت بمنى ليالي منى اتباعا للسنة
“Disunnahkan dengan sangat mabit di Mina pada malam-malam Mina sebagai bentuk mengikuti sunnah.” (Asy-Syarh al-Kabir)
Di Mina, manusia benar-benar diuji kesabarannya. Tempat yang sempit, perjalanan yang padat, cuaca yang panas, serta kelelahan fisik menjadi bagian dari ibadah itu sendiri. Namun justru di situlah seorang hamba belajar bahwa cinta kepada Allah terkadang dibuktikan dengan kesabaran dalam kesulitan.
Mina juga mengingatkan umat kepada keluarga Ibrahim. Di lembah inilah Nabi Ibrahim diuji dengan perintah menyembelih Ismail. Di tempat ini pula ketundukan seorang ayah, kesabaran seorang ibu, dan ketaatan seorang anak menjadi warisan keimanan bagi seluruh umat hingga hari kiamat.
Mina bukan hanya lembah di antara gunung-gunung Makkah. Ia adalah tempat pendidikan jiwa. Tempat seorang hamba belajar mengalahkan ego, memperbanyak dzikir, serta menghidupkan sunnah Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammadﷺ.
Dan ketika malam-malam Mina dipenuhi takbir kaum muslimin, seakan langit dan bumi sedang bersaksi: bahwa masih ada hamba-hamba yang datang dari seluruh penjuru dunia hanya untuk memenuhi panggilan Allah.
Wallahua’lam bisshowab.
Dilihat 99 kali


