Ingin dapat penawaran khusus untuk Anda? Konsultasi sekarang!

Pergi ke Al-Ula Dilarang Nabi? Ini Faktanya

29 July 2026 ditinjau oleh Tim Khidmat jejak imani

article-thumbnail

Belakangan ini, Al-Ula ramai jadi perbincangan jamaah umroh dan haji Indonesia. Kawasan di barat laut Arab Saudi ini menawarkan panorama gurun yang eksotis, situs arkeologi kuno, hingga gedung cermin raksasa Maraya. Namun di tengah gencarnya promosi wisata, muncul juga keresahan: benarkah Rasulullah pernah melarang umatnya memasuki wilayah ini? Agar tidak salah paham, mari kita telusuri faktanya berdasarkan dalil yang sahih.

Apa Itu Al-Ula?

Al-Ula adalah kawasan seluas ribuan kilometer persegi yang terletak sekitar 300 km di utara Madinah. Pada masa silam wilayah ini dikenal dengan nama Wadi al-Qura (lembah perkampungan). Di dalamnya terdapat beberapa destinasi, mulai dari Elephant Rock, Kota Kuno Al-Ula, gedung Maraya, sampai situs bersejarah Al-Hijr (Madain Saleh/Hegra) yang ditetapkan UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia pertama di Arab Saudi. Al-Hijr populer diyakini sebagai bekas pemukiman kaum Tsamud, umat Nabi Shaleh ‘alaihissalam, yang dibinasakan Allah karena mendustakan mukjizat unta betina sebagaimana digambarkan dalam QS. As Syamsy : 11-14.

Bolehkah Umat Islam ke Al-Ula?

Banyak menjadi pertanyaan apakah umat Islam boleh berkunjung ke Al-Ula dan jawabannya adalah boleh, karena Al-Ula bukan satu titik tunggal, melainkan kawasan luas yang sebagian besar wilayahnya tidak berkaitan dengan azab. Dasar kehati-hatian hanya berlaku pada area yang diyakini bekas pemukiman kaum Tsamud, merujuk hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ketika Rasulullah dan para sahabat melintasi wilayah Al-Hijr dalam perjalanan menuju Perang Tabuk. Beliau bersabda:

لَا تَدْخُلُوا عَلَى هَؤُلَاءِ الْمُعَذَّبِينَ إِلَّا أَنْ تَكُونُوا بَاكِينَ، فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا بَاكِينَ فَلَا تَدْخُلُوا عَلَيْهِمْ أَنْ يُصِيبَكُمْ مِثْلُ مَا أَصَابَهُمْ

“Janganlah kalian memasuki (tempat) orang-orang yang diazab ini, kecuali dalam keadaan menangis. Jika kalian tidak menangis, maka janganlah memasukinya, agar tidak menimpa kalian seperti yang menimpa mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa larangan ini bukan larangan mutlak melintas, melainkan larangan singgah dan berlama-lama tanpa rasa takut serta tanpa mengambil pelajaran (ibrah). Karena itu, mayoritas ulama lintas mazhab memahaminya sebagai larangan mengunjungi Al-Ula bersifat kehati-hatian, bukan pengharaman mutlak atas seluruh kawasan Al-Ula.

Identifikasi “Madain Saleh” Sendiri Masih Diperdebatkan

Menariknya, sebelum bicara hukum, ada persoalan yang lebih mendasar: apakah situs Al-Hijr yang selama ini dipromosikan sebagai “Madain Saleh” itu benar-benar lokasi kaum Tsamud?

Harian Al-Watan Saudi (10 Agustus 2022) mengangkat pendapat Syekh Ahmad bin Qasim al-Ghamdi, yang menyatakan lokasi Madain Saleh sebenarnya masih diperselisihkan, dan menurut kajiannya, tempat yang sekarang disebut Al-Ula bukanlah Madain Saleh yang dimaksud dalam riwayat. Bahkan sejumlah pemandu wisata resmi di situs itu sendiri, sebagaimana dilaporkan Al-Watan dalam laporan terpisah, mengaku para arkeolog belum menemukan bukti ilmiah-arkeologis definitif yang menghubungkan pahatan-pahatan di Al-Hijr dengan kaum Tsamud, meski otoritas pariwisata Saudi tetap mencantumkan narasi kaitan dengan Nabi Shaleh dalam materi resmi promosi situs tersebut. Artinya, “titik pasti” yang harus dijauhi itu sendiri belum disepakati batasnya, sehingga sikap kehati-hatian lebih tepat diarahkan sebagai adab batin (rasa takut dan tadabur), bukan larangan kaku terhadap satu koordinat tertentu.

Rasulullah Pernah Singgah dan Sholat di Al-Ula

Yang perlu diluruskan, Nabi Muhammad bukan hanya “melarang”, tapi juga pernah singgah dan beribadah di Al-Ula. Dalam perjalanan menuju Perang Tabuk tahun 9 H, rombongan Nabi ﷺ transit di Wadi al-Qura. Di sanalah beliau menentukan arah kiblat untuk sholat, namun karena tidak ada batu atau bata di sekitar, beliau menandainya dengan tulang (‘izham). Penduduk setempat kemudian membangun masjid tepat di titik itu dan menamainya Masjid al-‘Idzam (Masjid Tulang), bukti jejak fisik yang masih berdiri hingga sekarang di dalam Kota Tua Al-Ula, tepat bersebelahan dengan Benteng Musa bin Nushair, di jalur penghubung Al-Ula dengan Al-Hijr. Masjid ini telah beberapa kali direnovasi, termasuk restorasi atas biaya Putra Mahkota Pangeran Muhammad bin Salman. Fakta ini menegaskan bahwa singgah dan beribadah di Al-Ula bukan sesuatu yang terlarang, justru dilakukan langsung oleh Rasulullah.

Kota Tua (Old Town) Al-Ula sendiri, yang berada di jalur Wadi al-Qura, usianya diperkirakan sekitar 950 tahun. Sebagian besar batu bangunannya berasal dari reruntuhan Kerajaan Dadan (dikenal sebagai Al-Khuraibah) yang berperadaban jauh sebelum bangsa Nabath.

Tempat Aman di Al-Ula untuk Dikunjungi

elephant rock al ula

Berikut merupakan rekomendasi tempat yang aman dikunjungi saat ke Al-Ula

  1. Elephant Rock (Jabal Al-Fil) : formasi batu raksasa, ikon fotografi.
  2. Kota Kuno Al-Ula (Old Town) : termasuk Masjid al-‘Idzam dan Benteng Musa bin Nushair.
  3. Maraya : gedung berlapis cermin terbesar di dunia, pusat seni budaya.
  4. Shalal Cafe : sebuah cafe di celah-celah bebatuan Al Ula.

Kesimpulan

Al-Ula tidak terlarang secara keseluruhan. Titik yang perlu didekati dengan kehati-hatian pun masih menjadi perdebatan lokasinya. Bahkan Nabi sendiri pernah singgah dan salat di Al-Ula, dan jejaknya masih berdiri hingga kini lewat Masjid al-‘Idzam. Yang terpenting bukan menghindari koordinat tertentu, melainkan menjaga niat dan adab: menjadikan kunjungan sebagai tadabur, bukan sekadar hura-hura.

Bagi yang ingin berkunjung ke Al-Ula, Anda bisa berkunjung selagi melakukan ibadah umroh ke Tanah Suci di jejak imani dengan paket umroh plus Al-Ula. jejak imani adalah travel haji dan umroh sejak tahun 2012 dengan nama PT JEJAK IMANI BERKAH BERSAMA yang sudah berizin resmi sebagai Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) dan Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK). Anda juga bisa menanyakanan dan konsultasi dengan tim jejak imani terkait kebutuhan selama ibadah di Tanah Suci.

Wallahu a’lam.

Dilihat 24 kali