Ingin dapat penawaran khusus untuk Anda? Konsultasi sekarang!

Apa Tujuan Berkurban? Apakah Jadi Kendaraan di Akhirat?

24 April 2026 ditinjau oleh Tim Khidmat jejak imani

article-thumbnail

Setiap datangnya Idul Adha, umat Islam berbondong-bondong melaksanakan ibadah kurban. Ada yang memilih kambing, ada pula yang berkurban sapi. Namun, di balik semangat itu, muncul pertanyaan yang cukup sering terdengar: sebenarnya apa tujuan berkurban? Dan benarkah hewan kurban akan menjadi kendaraan kita di akhirat? Simak penjelasannya berikut.

Tujuan Berkurban

Ibadah kurban bukan sekadar menyembelih hewan. Kurban adalah simbol ketaatan dan pengorbanan seorang hamba kepada Allah. Kisah Habil dan Qabil yang diperintahkan berkurban serta kisah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang rela mengorbankan putranya demi perintah Allah menjadi dasar spiritual ibadah ini bahwa cinta kepada Allah harus mengalahkan segalanya.

Allah berfirman:

لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ

“Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37)

Ayat ini menegaskan bahwa esensi kurban adalah ketakwaan, bukan semata-mata ritual fisik. Dengan berkurban kita dilatih untuk ikhlas, rela berbagi, dan tidak terikat berlebihan pada harta.

Selain itu, tujuan kurban juga berpengaruh pada aspek-aspek sosial. Hasil daging kurban yang dibagikan menjadi bentuk kepedulian terhadap sesama, terutama mereka yang jarang menikmati makanan layak.

Apakah Hewan Kurban Menjadi Kendaraan di Akhirat?

Di masyarakat kita, beredar keyakinan bahwa hewan kurban kelak akan menjadi kendaraan bagi pemiliknya di akhirat. Secara populer, ini sering disampaikan sebagai motivasi. Namun, bagaimana sebenarnya dalam pandangan ulama?

Memang betul, terdapat riwayat yang disandarkan kepada Rasulullah dari Abu Hurairah yang cukup masyhur menyebutkan:

اسْتَفْرِهُوا ضَحاياكُمْ فإنَّها مَطَاياكُمْ علَى الصراطِ

“Gemukkanlah hewan kurban kalian, karena ia akan menjadi tunggangan kalian di atas shirath.” (HR. Ad Dailami)

Namun, para ulama menilai riwayat ini sangat lemah (dha‘if jiddan), sehingga tidak bisa dijadikan landasan utama. Al Hafiz Ibnu Hajar Al Asqalani menyebutkan bahwa tidak ditemui riwayat-riwayat lainnya yang kuat mengenai hadits tersebut sehingga hadits ini kekuatannya sangat lemah.

Bahkan Ibnu Arabi Al Maliki menyebutkan hampir keseluruhan hadits yang menyebutkan fadhilah kurban secara berlebihan berstatus sangat lemah dan tidak dapat dikonfirmasi kebenarannya.

Dengan status hadits yang sangat lemah inilah, para ulama tidak dapat mengkonfirmasi apakah benar kurban itu fadhilahnya akan menjadi tunggangan di akhirat atau tidak.

Namun demikian, para ulama berkesimpulan bahwa hadits ini maupun hadits-hadits yang serupa ingin menunjukkan bahwa kurban adalah ibadah yang sangat agung, dengan pahala yang besar di sisi Allah dan dengan pahala yang besar itulah kelak orang yang berkurban akan Allah mudahkan dalam melintasi as-shirath.

Kurban sebagai Latihan Melepas Dunia

Kurban mengajarkan kita untuk melepaskan kecintaan berlebihan pada dunia. Kita mengeluarkan harta terbaik, bukan sisa. Di sinilah nilai spiritual kurban mendidik hati agar tidak diperbudak oleh materi.

Hal ini ditunjukkan pada bagaimana ketika Allah memerintahkan Habil dan Qabil untuk berkurban. Habil membawa seekor kambing terbaik, yang gemuk dan gagah untuk kurbannya, sementara Qabil membawa sayur dan buah-buahan sisa dari panennya untuk kurbannya. Maka Allah menerima kurban Habil karena ketulusan dan ketakwaannya.

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَاَ ابْنَيْ اٰدَمَ بِالْحَقِّۘ اِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ اَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْاٰخَرِۗ قَالَ لَاَقْتُلَنَّكَۗ قَالَ اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّٰهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ

Bacakanlah (Nabi Muhammad) kepada mereka berita tentang dua putra Adam dengan sebenarnya. Ketika keduanya mempersembahkan kurban, kemudian diterima dari salah satunya (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Dia (Qabil) berkata, “Sungguh, aku pasti akan membunuhmu.” Dia (Habil) berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.” (Qs. Al Maidah : 27)

Dari apa yang dipersembahkan oleh Qabil dan Habil, terlihat jelas perbedaan kualitas keikhlasan keduanya. Habil menunjukkan ketulusan dengan menyerahkan hewan terbaik yang ia miliki. Sebaliknya, Qabil justru memberikan hasil panen yang kurang baik. Sikap ini menunjukkan bahwa Qabil tidak memiliki ketakwaan dan ketaatan yang kuat kepada Allah.

Allah berfirman:

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَۗ وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ

“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan yang sempurna sampai kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali Imran: 92)

Dalam konteks ini, kurban bukan hanya ibadah tahunan, tetapi latihan jiwa untuk menjadi lebih dermawan dan dekat dengan Allah. Kurban melahirkan satu kesadaran bahwa segala hal yang kita miliki harus bisa kita jadikan sarana kita semakin dekat dengan Allah dan merayu Allah dalam meraih cinta-Nya.

Semoga dengan mengetahui perihal qurban dapat bermanfaat bagi Sahabat yang sedang berencana untuk berkurban pada bulan Dzulhijjah.

Selain ibadah qurban, ibadah lain yang dilakukan pada bulan Dzulhijjah adalah ibadah haji yang digelar setahun sekali.

Bagi Anda yang memiliki impian untuk segera melaksanakan ibadah haji, Anda bisa mempercayakannya bersama jejak imani, karena memiliki program haji plus dan haji furoda dengan masa tunggu lebih cepat.

jejak imani adalah travel haji dan umroh sejak tahun 2012 yang sudah berizin resmi sebagai Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) dan Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK). Segera konsultasikan dengan tim jejak imani terkait kebutuhan selama ibadah di Tanah Suci.

Semoga bermanfaat!

Dilihat 71 kali