Ini Keutamaan Bulan Muharram, Bulan Pertama Hijriyah
15 June 2026 ditinjau oleh Tim Khidmat jejak imani

Setiap kali kalender Islam berganti, nama Muharram selalu menjadi yang pertama disebut. Bukan kebetulan, Muharram adalah bulan pembuka, awal dari perputaran waktu dalam penanggalan Hijriyah yang diakui oleh Allah sejak langit dan bumi pertama kali diciptakan. Datangnya bulan Muharram menandai pergantian tahun dalam kalender Islam, sekaligus menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk melakukan muhasabah. Namun lebih dari sekadar penanda waktu, Muharram menyimpan keistimewaan yang jarang disadari sepenuhnya oleh banyak orang.
Asal Penamaan Muharram
Kata Muharram berasal dari akar kata harama, yang berarti diharamkan atau disucikan. Menarik bahwa ini bukan nama warisan jahiliah. Al-Hafizh As-Suyuthi menjelaskan dalam kitab Al-Jauharah bahwa nama “Muharram” adalah nama Islami. Nama bulan ini di masa jahiliah adalah “Shafar Al-Awwal”, sedangkan yang kini disebut Shafar adalah “Shafar Ats-Tsani”. Ketika Islam datang, Allah menamai bulan pertama ini “Al-Muharram”, lalu disandarkanlah kepada Allah dengan pertimbangan ini.  Inilah yang menjadi salah satu jawaban atas pertanyaan klasik: mengapa Muharram secara khusus disebut “bulan Allah”, padahal semua bulan milik Allah?
Dalam Syarh Tirmidzi, Al-Hafizh Abul Fadhl Al-’Iroqi menjawab pertanyaan mengapa Muharram secara khusus disebut Syahrullah padahal semua bulan milik Allah: karena di bulan inilah pembunuhan diharamkan secara lebih ketat, karena ia adalah bulan pertama dalam setahun, dan karena penyandaran nama ini kepada Allah adalah bentuk pengistimewaan yang tidak pernah Nabi SAW berikan kepada bulan mana pun selain Muharram. (Syarh Suyuthi li Sunan An Nasai, 3/206).
Ibnu Rajab menyebutkan alasan lain dari penyandaran ini: ia merupakan isyarat bahwa pengharamannya langsung berasal dari Allah, bukan dari siapapun di antara makhluk-Nya yang boleh mengubah atau menggantikannya, sebagaimana yang pernah dilakukan orang-orang jahiliah yang memindahkan kesakralan Muharram ke bulan Shafar. (Lathaif Al Maarif, 33)
Ibnu Katsir memberikan penjelasan yang menarik tentang hikmah di balik keempat bulan haram itu: tiga bulan berurutan (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram) dimuliakan untuk memfasilitasi ibadah haji dan umrah. Dzulqa’dah agar orang berhenti dari peperangan, Dzulhijjah untuk menunaikan manasik haji, dan Muharram agar para jamaah haji dapat pulang ke negeri-negeri jauh mereka dengan aman. Adapun Rajab dimuliakan di tengah tahun agar mereka yang tinggal di ujung jazirah Arab bisa pergi berziarah ke Baitullah dan kembali dengan selamat. (Tafsir Ibn Katsir, 4/148)
Mengapa Muharram Menjadi Awal Tahun Hijriah?
Ada pertanyaan yang sering muncul: mengapa kalender Hijriah dimulai dari Muharram, padahal peristiwa hijrah Nabi SAW sendiri terjadi di bulan Rabi’ul Awwal? Menjawab pertanyaan ini, diriwayatkan bahwa Umar bin al-Khattab bermusyawarah dengan para sahabat terkait penanggalan hijriyah ini. Muncul berbagai pendapat, namun Umar memilih usulan Utsman bin Affan yang menyatakan “Muharram sebagai awal kalender Hijriyah karena ia adalah bulan yang mengikuti musim haji di mana para jamaah pulang dalam kondisi telah diampuni dosa-dosanya, lalu memulai lembaran baru bersama Allah yang penuh ketaatan dan keikhlasan. Maka ini menjadi pembuka tahun baru yang penuh berkah.” (As Syamarikh fi Ilmi At Tarikh, 15)
Lebih dari itu, dibukanya tahun dengan bulan haram (Muharram) dan ditutupnya dengan bulan haram pula (Dzulhijjah) memiliki makna spiritual yang dalam, Allah menghendaki agar awal dan akhir setiap tahun berada dalam suasana pengagungan, mengingatkan setiap hamba akan keutamaan ketaatan, dan mendorong mereka untuk memperbanyak amal shalih. Inilah yang menjadi kebiasaan para salaf yang shalih, yang mengagungkan awal Muharram sebagaimana mereka mengagungkan awal Dzulhijjah dan akhir Ramadan.
Keutamaan Bulan Muharram
Berikut merupakan keutamaan bulan Muharram
1. Satu-Satunya Bulan yang Disebut “Bulan Allah”
Di antara dua belas bulan Hijriyah, hanya Muharram yang secara eksplisit disebut oleh Nabi SAW sebagai Syahrullah (bulan Allah). Ibnu Rajab menegaskan bahwa penyandaran ini kepada nama Allah menunjukkan kemuliaan yang luar biasa, sebab Allah tidak menyandarkan kepada diri-Nya kecuali hal-hal yang paling istimewa dari ciptaan-Nya: para Nabi seperti Muhammad, Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub disandarkan kepada-Nya sebagai hamba-hamba-Nya, Ka’bah sebagai “bait-Nya”, dan unta Nabi Shalih sebagai “unta-Nya”. (Lathaif Al Maarif, 33)
Ibnu Rajab juga mencatat keselarasan yang indah: Allah menjadikan puasa sebagai ibadah yang secara khusus disandarkan kepada-Nya dalam hadis qudsi, “Puasa itu milik-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” Karena bulan Muharram disandarkan kepada Allah, dan puasa pun demikian disandarkan kepada Allah, maka sangat serasi bahwa bulan yang dinisbatkan kepada Allah ini diisi dengan ibadah yang juga dinisbatkan kepada Allah. (Lathaif Al Maarif, 34)
2. Bulan Terbaik untuk Puasa Sunnah
Rasulullah bersabda:
أفضَلُ الصِّيامِ بعد رمضانَ شَهرُ اللهِ المُحَرَّمُ
“Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu bulan Muharram.” (HR. Muslim)
Para ulama berbeda pendapat tentang makna hadis ini: apakah menganjurkan puasa sebulan penuh ataukah hanya memperbanyak puasa. Imam Nawawi sendiri memilih pendapat bahwa ini adalah anjuran untuk memperbanyak puasa di Muharram, bukan memuasai seluruh harinya mengacu pada riwayat Aisyah yang menyatakan tidak pernah melihat Nabi Muhammad berpuasa sebulan penuh kecuali Ramadan. (Syarh Shahih Muslim, 8/55)
AdapunIbnu Rajab menjelaskan kebolehan berpuasa satu bulan penuh dalam bulan Muharram ataupun berpuasa sebagiannya. Ia pun menjelaskan puasa ini dengan cara yang menarik: puasa sunnah terbagi dua jenis puasa sunnah mutlak yang terbaik adalah di bulan Muharram, dan puasa yang mengikuti Ramadan (seperti puasa enam hari Syawal) yang memiliki keutamaannya tersendiri. Maka Muharram adalah puncak puasa sunnah murni (mutlak). (Lathaif Al Maarif, 42 & 70)
3. Dosa dan Pahala Dilipatgandakan
Para ulama menjelaskan bahwa pada bulan-bulan haram, dosa dan kemaksiatan memiliki konsekuensi yang lebih berat, sementara amal shalih mendapatkan perhatian dan keutamaan yang lebih besar. (Zaadul Masiir, 2/257). Imam Qatadah merangkumnya dengan kalimat yang tajam: “kezaliman di bulan-bulan haram lebih besar kesalahan dan dosanya, meskipun kezaliman dalam keadaan apapun tetap terlarang, Allah hanya menjadikan beberapa perkara lebih besar bobotnya sesuai kehendak-Nya.” (Tafsir At Thabari, 14/238)
4. Hari Asyura: Mahkota dalam Mahkota
Salah satu keistimewaan terbesar Muharram adalah adanya hari Asyura, tanggal 10 Muharram. Ini adalah hari ketika Allah menyelamatkan Nabi Musa dan kaumnya dari kejaran Fir’aun, lalu Nabi Musa berpuasa sebagai bentuk syukur. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah dan mendapati kaum Yahudi berpuasa pada hari itu, beliau bersabda, “Kami lebih berhak atas Musa daripada kalian,” lalu beliau berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa pula. (HR. Bukhari dan Muslim)
Keutamaan puasanya besar: Rasulullah mengharap kepada Allah agar puasa tersebut dapat menghapus dosa setahun yang lalu (HR. Muslim). Imam Nawawi menjelaskan dalam al-Majmu’ bahwa yang dihapus adalah dosa-dosa kecil. Jika seseorang tidak memiliki dosa kecil, maka pahalanya dicatat sebagai kebaikan dan ditinggikan derajatnya; jika yang ada hanya dosa besar, maka diharapkan dapat meringankannya. (Al Majmu’, 6/382)
Ibnu Abbas memberikan kesaksian istimewa: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah begitu bersungguh-sungguh mencari keutamaan suatu hari melebihi hari lainnya selain hari Asyura ini, dan bulan ini yakni bulan Ramadan.” (HR. Bukhari)
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Zad al-Ma’ad (2/75) menyebutkan tiga tingkatan puasa Asyura:
- Paling sempurna adalah puasa tanggal 9, 10, dan 11 Muharram sekaligus
- Di bawahnya puasa tanggal 9 dan 10
- Dan yang paling minimal adalah puasa tanggal 10 saja.
Tujuan menambahkan tanggal 9 (Tasu’a) terutama adalah untuk membedakan diri dari tradisi Yahudi yang hanya berpuasa tanggal 10. Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa itulah yang paling kuat sebagai alasannya (Fath Al Bari, 4/308).
Hal ini didasarkan pada hadits Nabi:
صوموا يومَ عاشوراءَ وخالفوا فيهِ اليهودَ وصوموا قَبلَهُ يومًا أو بعدَه يومًا
“Berpuasalah pada hari Asyura. Dan bedakanlah diri kalian dengan Yahudi dengan berpuasa 1 hari sebelumnya atau 1 hari setelahnya” (HR. Ahmad, Al Bazzar dan Ibn Khuzaimah, status sanad Hasan).
Muharram dan Jejak Para Nabi
Keagungan bulan ini tidak hanya berdimensi ibadah, tapi juga sejarah yang panjang. Dalam catatan ulama klasik, banyak peristiwa besar dalam sejarah kenabian terjadi di bulan Muharram: dari diterimanya taubat Nabi Adam, selamatnya Nabi Ibrahim dari api Namrud, terbelahnya Laut Merah untuk Nabi Musa, hingga diangkatnya Nabi Isa ke langit. Seakan Muharram adalah bulan di mana Allah berulang kali menunjukkan bahwa pertolongan-Nya selalu hadir bagi mereka yang beriman dan bersabar.
Kesimpulan: Sambut dengan Amal, Bukan Sekadar Kalender
Muharram bukan hanya soal angka di kalender. Para salaf shalih mengagungkan awal-awal Muharram sebagaimana mereka mengagungkan awal Dzulhijjah dan akhir Ramadan. Seorang muslim yang cerdas akan membaca isyarat ini: saat Allah memberi nama khusus kepada sebuah bulan, membukakan pintu pahala berlipat di dalamnya, dan mengisinya dengan jejak-jejak pertolongan-Nya kepada para nabi, maka yang paling tepat dilakukan adalah datang ke bulan itu dengan niat yang sungguh-sungguh.
Perbanyaklah puasa, jauhi dosa, perbarui orientasi hidup. Karena sebuah tahun yang dimulai dengan ketaatan, insya Allah akan dijalani dengan keberkahan.
Semoga Allah mudahkan kita untuk bisa mengerjakan sunnah Rasulullah, sebagai langkah terbaik untuk mendekatkan diri pada-Nya. Selain puasa, salah satu amalan sunnah yang dapat dilakukan di bulan Muharram adalah umroh.
Bagi yang ingin melakukan perjalanan ibadah ke Tanah Suci, Anda dapat mempercayakan perjalanan ibadah haji dan umroh bersama jejak imani.
jejak imani adalah travel haji dan umroh sejak tahun 2012 dengan nama PT JEJAK IMANI BERKAH BERSAMA yang sudah berizin resmi sebagai Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) dan Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK) dari Kemenag. Anda juga bisa menanyakanan dan konsultasi dengan tim jejak imani terkait kebutuhan selama ibadah umroh di Tanah Suci.
Wallahu a’lam.
Dilihat 14 kali


