Ingin dapat penawaran khusus untuk Anda? Konsultasi sekarang!

Adakah Doa Akhir Tahun dan Awal Tahun Hijriyah?

15 June 2026 ditinjau oleh Tim Khidmat jejak imani

article-thumbnail

Setiap kali pergantian tahun Hijriyah tiba, masjid-masjid di berbagai penjuru negeri kita ramai dengan pembacaan doa bersama, doa akhir tahun menjelang Maghrib di hari terakhir bulan Dzulhijjah, dilanjutkan doa awal tahun setelah Maghrib menyambut 1 Muharram. Tradisi ini begitu melekat di masyarakat, hingga banyak yang menganggapnya sebagai bagian dari sunnah yang mapan. Namun, sahihkah hal ini secara syar’i? Adakah landasan yang kuat dari Al-Qur’an, hadits, maupun fatwa para ulama muktabar? Pertanyaan ini penting dijawab secara jujur dan proporsional, agar kita tidak gegabah menghukumi suatu amalan tanpa dasar yang memadai.

Apakah Ada Doa Akhir dan Awal Tahun?

Jawaban singkatnya, tidak ada riwayat hadits yang secara khusus menetapkan doa akhir tahun dan awal tahun Hijriyah dari Nabi maupun para sahabatnya. Bagi Rasulullah dan para sahabat, pergantian tahun tidak menjadi hal yang begitu diagungkan. Melainkan dari riwayat-riwayat yang ada, Nabi Muhammad mengajarkan kita hanya doa setiap pergantian bulan hijriyah.

Namun demikian, para ulama menganjurkan dan menyusun doa-doa tertentu yang dibaca dan diamalkan di setiap akhir serta awal tahun dengan harapan memohon kebaikan kepada Allah.

Lantas, apakah itu sebuah bid’ah yang dilarang?

Darul Ifta’ Mesir dalam fatwanya menegaskan bahwa mengkhususkan hari tertentu dalam setahun dengan doa tertentu dari amalan orang-orang shalih adalah sesuatu yang diperbolehkan secara syar’i, telah dipraktikkan kaum muslimin lintas abad dan para ulama dari berbagai madzhab telah menyatakan kebolehannya, selama tidak diyakini sebagai sunnah nabawiyyah yang baku. 

Landasan kebolehan ini antara lain bersandar pada hadits dalam Shahihain tentang Nabi Muhammad yang secara rutin mendatangi Masjid Quba setiap hari Sabtu. Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyimpulkan bahwa hadits tersebut menjadi dalil atas bolehnya mengkhususkan sebagian hari dengan sebagian amalan shalih dan melakukannya secara konsisten. Ini adalah prinsip yang dipegang mayoritas ulama (Syarh Shahih Muslim, 9/171).

Bukan hanya Imam Nawawi, pendapat inipun didukung oleh para ulama lainnya. Misalnya Ibnu Hajar Al Asqalany yang menyatakan “Hadits ini (mendatangi masjid Quba setiap Sabtu), dengan berbagai jalur periwayatannya, mengandung petunjuk atas bolehnya mengkhususkan sebagian hari dengan sebagian amal shalih, serta melanggengkan amalan tersebut.” (Fath Al Bari, 3/69)

Pendapat lainnya seperti Imam Qadhi Iyadh Al Maliki yang menyatakan, “Sabda beliau ‘setiap Sabtu’ mengandung dalil atas bolehnya pengkhususan semacam ini. Ibnu Maslamah memakruhkan hal ini karena khawatir orang mengira itu adalah sunnah khusus pada hari tersebut; barangkali hadits ini belum sampai kepadanya. Hadits ini juga menjadi hujjah atas bolehnya para imam dan orang-orang shalih mengkhususkan sebagian hari dalam sepekan untuk sejenis amal pendekatan kepada Allah, atau untuk mengunjungi saudara-saudara, atau menengok sebagian urusan mereka.” (Ikmal Al Mu’lim, 4/520).

Hukum Doa Awal Tahun dan Akhir Tahun

Dengan penjelasan para ulama yang telah disebutkan maupun yang belum disebutkan, maka doa awal tahun dan akhir tahun merupakan suatu hal yang boleh dilakukan oleh siapapun. Terlebih status hukum sebuah doa adalah mutlak. Dimana Allah memerintahkan kita sebagai hamba-Nya untuk memohon dan meminta kepada Allah tanpa membatasi redaksinya maupun mengkhususkannya. Kita diperbolehkan memunajatkan doa dalam lafadz apapun selama itu memohon kebaikan. Walaupun demikian para ulama sepakat bahwa doa yang matsur (bersumber dari Al Quran dan sunnah) merupakan doa yang lebih utama.

Doa awal tahun dan doa akhir tahun termasuk doa-doa para orang shalih dan amalan yang telah nampak kebaikannya. Keduanya merupakan doa-doa yang dinilai baik (mustahsan) yang diwariskan dari kalangan ulama Hanabilah sejak hampir seribu tahun lalu. Yang merekomendasikan, mengajarkan, dan meriwayatkan keduanya dari para masyayikhnya adalah imam dan pemuka Hanabilah pada masanya: Syaikh al-Imam al-Wali ash-Shalih Abu Umar al-Maqdisi, Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Qudamah al-Hanbali [wafat 607 H].

Doa Akhir Tahun dan Awal Tahun

Sejarawan Syamsuddin Abu al-Muzhaffar Yusuf Sibt Ibn al-Jawzi berkata dalam kitab tarikhnya Mir’atul Zaman fi Tawarikh al-A’yan (22/180-181) mengatakan:

“Para masyayikh kami selalu merutinkan doa ini di awal dan akhir setiap tahun, dan tidak pernah terlewat sepanjang hidup mereka.

Adapun doa awal tahun, engkau mengucapkan:

اللَّهُمَّ أَنْتَ الأَبَدِيُّ الْقَدِيمُ، وَهَذِهِ سَنَةٌ جَدِيدَةٌ، أَسْأَلُكَ فِيهَا الْعِصْمَةَ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَائِهِ، وَالْعَوْنَ عَلَى هَذِهِ النَّفْسِ الأَمَّارَةِ بِالسُّوءِ، وَالاشْتِغَالَ بِمَا يُقَرِّبُنِي إِلَيْكَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ

‘Ya Allah, Engkau Maha Kekal dan Maha Terdahulu, dan ini adalah tahun baru. Aku memohon kepada-Mu di dalamnya perlindungan dari setan dan para pengikutnya, pertolongan menghadapi nafsu yang selalu menyuruh kepada keburukan, dan kesibukan dengan apa yang mendekatkanku kepada-Mu, wahai Dzat Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.’

Adapun doa akhir tahun, beliau mengucapkannya di hari terakhir dari hari-hari tahun itu:

اللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ فِي هَذِهِ السَّنَةِ مِمَّا نَهَيْتَنِي عَنْهُ وَلَمْ تَرْضَهُ وَلَمْ تَنْسَهُ، وَحَلُمْتَ عَنِّي بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوبَتِي، وَدَعَوْتَنِي إِلَى التَّوْبَةِ مِنْ بَعْدِ جُرْأَتِي عَلَى مَعْصِيَتِكَ، فَإِنِّي أَسْتَغْفِرُكَ مِنْهُ فَاغْفِرْ لِي، وَمَا عَمِلْتُ فِيهَا مِمَّا تَرْضَاهُ وَوَعَدْتَنِي عَلَيْهِ الثَّوَابَ، فَأَسْأَلُكَ أَنْ تَتَقَبَّلَهُ مِنِّي، وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِي مِنْكَ يَا كَرِيمُ

‘Ya Allah, segala yang aku perbuat di tahun ini dari apa yang Engkau larang, yang tidak Engkau ridhai dan tidak Engkau lupakan, dan Engkau bersabar atasku padahal Engkau berkuasa menghukumku, dan Engkau mengajakku bertobat setelah keberanian lancangku bermaksiat kepada-Mu — maka aku memohon ampun kepada-Mu atasnya, ampunilah aku. Dan segala yang aku perbuat di tahun ini dari apa yang Engkau ridhai dan Engkau janjikan pahala atasnya, maka aku memohon kepada-Mu agar Engkau menerimanya dariku, dan jangan putuskan harapanku kepada-Mu, wahai Yang Maha Mulia.’

Sejak saat itu, para ulama dari berbagai madzhab dan aliran senantiasa saling mewariskan dan merekomendasikan kedua doa ini dalam amalan-amalan tahunan tanpa ada yang mengingkarinya.

Doa yang Bersandar pada Atsar Sahabat

Bagi yang lebih memilih amalan yang ada akar atsar-nya secara langsung dari sahabat, dari Abdullah bin Hisyam radhiyallahu ‘anhu diriwayatkan bahwa para sahabat Nabi mengajarkan doa berikut sebagaimana mengajarkan Al-Qur’an, dan dibaca ketika memasuki awal bulan atau tahun: 

اللَّهُمَّ أَدْخِلْهُ عَلَيْنَا بِالأَمْنِ وَالإِيمَانِ، وَالسَّلَامَةِ وَالإِسْلَامِ، وَجِوَارٍ مِنَ الشَّيْطَانِ، وَرِضْوَانٍ مِنَ الرَّحْمَنِ

‘Ya Allah, masukkanlah kami pada bulan/tahun ini dengan rasa aman, keimanan, keselamatan, dan Islam; lindungilah kami dari gangguan setan, dan anugerahilah kami ridha dari Ar-Rahman.’

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Baghawi dalam Mu’jam Ash-Shahabah dengan sanad yang sahih, dan Imam Ibnu Hajar menshahihkannya dalam Al-Ishabah. Sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid, “Doa ini ada riwayatnya. Seorang muslim sangat bagus sekali mengamalkan doa ini ketika masuk awal bulan (terlihat hilal).” (Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 322345)

Kesimpulan

Doa akhir tahun dan awal tahun Hijriyah tidak bersumber langsung dari hadits Nabi, namun bukan berarti otomatis bid’ah yang sesat. Ia merupakan doa yang diwariskan para ulama dan orang-orang shalih lintas madzhab sejak hampir seribu tahun, dan kebolehan mengamalkannya telah ditegaskan oleh para ulama. Yang perlu dijaga adalah niat yang benar, menggunakannya sebagai sarana muhasabah dan pengharapan kepada Allah, bukan sebagai ritual yang diyakini sunnah nabawiyyah yang baku. Islam tidak pernah menutup pintu bagi seorang hamba yang ingin memanfaatkan momen pergantian waktu untuk kembali berdoa dan bermunajat kepada-Nya. Bukankah Allah berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

(QS. Ghafir: 60)

Maka manfaatkanlah pergantian tahun ini bukan sekadar untuk bertukar ucapan selamat, tetapi akan untuk sungguh-sungguh menghitung diri dan memohon kepada Allah agar tahun yang baru menjadi lebih baik dari yang telah berlalu.

Bagi yang ingin melakukan perjalanan ibadah ke Tanah Suci, Anda dapat mempercayakan perjalanan ibadah haji dan umroh bersama jejak imani.

jejak imani adalah travel haji dan umroh sejak tahun 2012 dengan nama PT JEJAK IMANI BERKAH BERSAMA yang sudah berizin resmi sebagai Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) dan Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK) dari Kemenag. Anda juga bisa menanyakanan dan konsultasi dengan tim jejak imani terkait kebutuhan selama ibadah umroh di Tanah Suci.

Wallahu a’lam.

Dilihat 25 kali