Seistimewa Itu Rukun Yamani, Ini Alasannya!
29 August 2026 ditinjau oleh Tim Khidmat jejak imani

Bagi sebagian jamaah umroh, perhatian saat melihat Ka’bah mungkin langsung tertuju kepada Hajar Aswad, tempat dimulainya putaran tawaf. Namun, tahukah Anda bahwa ada satu sudut Ka’bah lainnya yang juga memiliki keistimewaan khusus? Sudut tersebut adalah Rukun Yamani.
Letaknya mungkin tidak seramai Hajar Aswad. Tidak ada anjuran untuk menciumnya. Bahkan, tidak banyak jamaah yang mengetahui apa yang sebaiknya dilakukan ketika melewatinya. Padahal Rukun Yamani memiliki kedudukan khusus dalam ibadah tawaf yang dicontohkan langsung oleh Rasulullah ﷺ.
Lalu, apa sebenarnya Rukun Yamani? Mengapa sudut ini begitu istimewa dan apa yang sebaiknya dilakukan seorang jamaah ketika melewatinya?
Apa Itu Rukun Yamani?
Rukun Yamani adalah salah satu dari empat sudut Ka’bah. Empat sudut tersebut dikenal sebagai Rukun Hajar Aswad, Rukun Yamani, Rukun Syami, dan Rukun ’Iraqi.
Rukun Yamani disebut demikian karena sudut ini mengarah ke wilayah Yaman. Secara posisi, Rukun Yamani berada di sisi barat daya Ka’bah dan dalam rangkaian tawaf ia berada sebelum Hajar Aswad.
Mengapa Rukun Yamani Begitu Istimewa?
Keistimewaan Rukun Yamani bukan hanya karena ia merupakan bagian dari bangunan Ka’bah. Hal yang membuat istimewa adalah adanya tuntunan khusus dari Rasulullah ﷺ terhadap dua sudut Ka’bah: Hajar Aswad dan Rukun Yamani.
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ tidak menyentuh bagian Ka’bah kecuali Hajar Aswad dan Rukun Yamani. (HR. Tirmidzi).
Hadits di atas yang membedakan Hajar Aswad dan Rukun Yamani dari dua sudut Ka’bah lainnya, yaitu Rukun ‘Iraqi dan Rukun Syami. Bukan berarti dua sudut tersebut tidak mulia, semuanya adalah bagian dari Ka’bah yang dimuliakan Allah. Namun dalam tata cara tawaf, Rasulullah ﷺ memberikan perlakuan khusus kepada Hajar Aswad dan Rukun Yamani. Bahkan terdapat riwayat dari Ibnu Umar radhiyallahu ’anhuma bahwa Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّ مَسْحَ الرُّكْنِ الْيَمَانِيِّ وَالرُّكْنِ الْأَسْوَدِ يَحُطُّ الْخَطَايَا حَطًّا
“Sesungguhnya mengusap Rukun Yamani dan Hajar Aswad menggugurkan dosa-dosa.”
Riwayat ini disebutkan dalam Musnad Ahmad dan beberapa kitab hadis lainnya, dan dinilai hasan oleh Syaikh Syuaib al-Arnauth..
Maka, Rukun Yamani selain menjadi “sudut Ka’bah yang dilewati saat tawaf” juga mengingatkan kita bahwa dalam ibadah, ada amalan-amalan yang keutamaannya karena mengikuti petunjuk Rasulullah ﷺ.
Dimana Lokasi Rukun Yamani?
Agar lebih mudah mengenalinya, bayangkan Anda sedang melakukan tawaf. Setelah melewati Hajar Aswad, Anda berjalan menuju sisi berikutnya Ka’bah. Setelah itu melewati Rukun ’Iraqi, Rukun Syami, kemudian sampailah pada Rukun Yamani.
Dari Rukun Yamani, Anda akan berjalan menuju Hajar Aswad. Karena Rukun Yamani berada sebelum Hajar Aswad, jamaah biasanya mulai bersiap membaca doa yang dianjurkan ketika berada di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad.
Baca Apa Saat di Rukun Yamani?
Ini bagian yang penting untuk diketahui jamaah. Ketika berada di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad, disunnahkan membaca doa. Doa ini diriwayatkan dari Abdullah bin as-Sa’ib bahwa Nabi ﷺ membacanya ketika berada di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad :
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanah, wa fil-aakhirati hasanah, wa qinaa ’adzaaban-naar.”
“Ya Rabb kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”
Perhatikan bahwa doa tersebut dibaca di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad, bukan semata-mata ketika tepat berada di depan Rukun Yamani.
Seakan akan setiap kali melewati bagian ini dan membaca doa di atas, seorang mukmin diingatkan bahwa perjalanan hidupnya pun harus seimbang: mengejar kebaikan dunia tanpa kehilangan akhirat, dan mengejar akhirat tanpa mengabaikan amanah kehidupan dunia.
Puncak dari doa antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad adalah permohonan “Jauhkan kami dari api neraka”. Sebuah doa yang sangat singkat, tetapi mencakup seluruh kebutuhan manusia.
Mungkin selama ini kita sering datang ke Tanah Suci dengan daftar panjang keinginan. Ingin rezeki, kesehatan, keluarga yang harmonis, pekerjaan, pendidikan, dan berbagai urusan dunia. Semua itu boleh tetapi Rukun Yamani mengajarkan kita untuk memperluas doa:
Jangan berhenti pada meminta kehidupan yang baik. Mintalah agar kehidupan yang baik itu mengantarkan kita kepada akhirat yang baik.
Lalu, apa yang dilakukan ketika tepat di Rukun Yamani?
Jika memungkinkan tanpa menyakiti atau berdesak-desakan dengan jamaah lain, sunnahnya adalah mengusap Rukun Yamani dengan tangan. Jika tidak memungkinkan untuk menyentuhnya karena kondisi jamaah yang padat, tidak perlu memaksakan diri dan tidak perlu membuat kerumunan atau menyakiti jamaah lain.
Berbeda dengan Hajar Aswad, Rukun Yamani tidak dicium. Juga tidak disyariatkan menunjuk Rukun Yamani dari kejauhan seperti ketika memberikan isyarat kepada Hajar Aswad.
Sederhananya jika bisa menyentuh dengan mudah maka sentuhlah Rukun Yamani. Jika tidak bisa, maka lanjutkan tawaf dengan tenang. Jangan sampai mengejar keutamaan justru membuat kita mengganggu atau menyakiti jamaah lain.
Rukun Yamani Mengajarkan Kita Tentang Mengikuti Sunnah
Ada pelajaran menarik dari Rukun Yamani. Kita menyentuh sudut ini bukan karena meyakini bahwa batu atau bangunan tersebut memiliki kekuatan untuk mendatangkan manfaat atau menolak bahaya dengan sendirinya.
Kita melakukannya karena Rasulullah ﷺ mencontohkannya. Inilah makna penting dari ibadah yang sesuai sunnah, kita tidak hanya beribadah dengan perasaan, tetapi juga dengan mengikuti petunjuk Rasulullah ﷺ.
Bahkan dalam kisah Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ketika Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu menyentuh seluruh sudut Ka’bah saat tawaf, Ibnu Abbas menjelaskan bahwa Nabi ﷺ hanya menyentuh Hajar Aswad dan Rukun Yamani.
Kesimpulan
Rukun Yamani adalah salah satu sudut Ka’bah yang memiliki keistimewaan khusus. Bersama Hajar Aswad, Rukun Yamani merupakan dua sudut Ka’bah yang secara khusus disentuh oleh Rasulullah ﷺ ketika tawaf.
Ketika melewatinya, jamaah disunnahkan mengusap Rukun Yamani jika memungkinkan tanpa berdesak-desakan. Setelah melewati Rukun Yamani dan berjalan menuju Hajar Aswad, dianjurkan membaca:
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Ya Rabb kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”
Mungkin bagi mata kita, Rukun Yamani hanyalah sebuah sudut bangunan Ka’bah. Namun bagi seorang yang sedang bertawaf, ia adalah salah satu tempat untuk menghidupkan sunnah Rasulullah ﷺ, mengingat Allah, dan memohon kebaikan dunia serta akhirat.
Sebab keistimewaan sebuah tempat bukan terletak pada seberapa ramai orang membicarakannya, tetapi pada seberapa kuat tuntunan Nabi ﷺ mengajarkan kita untuk memuliakannya.
Semoga Allah memberikan kita kesempatan untuk bertawaf di Baitullah, mengenal sunnah-sunnah Rasulullah ﷺ, dan mengamalkannya dengan penuh ilmu dan ketenangan. Aamiin.
Bagi yang ingin mengunjungi Baitullah, Anda dapat mempercayakan perjalanan ibadah haji dan umroh bersama jejak imani. jejak imani adalah travel haji dan umroh sejak tahun 2012 dengan nama PT JEJAK IMANI BERKAH BERSAMA yang sudah berizin resmi sebagai Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) dan Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK). Anda juga bisa menanyakanan dan konsultasi dengan tim jejak imani terkait kebutuhan selama ibadah di Tanah Suci.
Wallahua’lam bisshowab.
Dilihat 219 kali


