Ingin dapat penawaran khusus untuk Anda? Konsultasi sekarang!

Sering Salah Kira, Cek Kebeneran Maqam Ibrahim

29 August 2026 ditinjau oleh Tim Khidmat jejak imani

article-thumbnail

Maqam Ibrahim, sebuah batu yang berjarak beberapa meter dari Ka’bah. Maqam Ibrahim menjadi salah satu syiar Allah sangat bersejarah di Masjidil Haram sekaligus saksi nyata perjuangan Nabi Ibrahim ‘alaihissalām dalam membangun Ka'bah. Berkedudukan istimewa sebagai bagian dari āyāt bayyināt (QS. Ali ‘Imran: 97), batu ini disyariatkan secara khusus dalam Al-Qur'an sebagai lokasi pelaksanaan sholat dua rakaat setelah tawaf (QS. Al-Baqarah: 125).

Oleh karena itu, kajian mengenai Maqam Ibrahim tidak hanya mengungkap sejarah pembangunan Ka'bah, tetapi juga menyingkap makna mendalam tentang ketaatan, keikhlasan dan keteladanan Nabi Ibrahim `alaihissalām sebagai fondasi utama peradaban tauhid.

Hakikat Maqam Ibrahim

Di kalangan sebagian jamaah Indonesia masih dijumpai kesalahpahaman mengenai Maqam Ibrahim. Tidak sedikit yang mengira bahwa Maqam Ibrahim adalah makam atau kuburan Nabi Ibrahim `alaihissalām. Kesalahpahaman ini umumnya muncul karena dalam bahasa Indonesia kata makam telah mengalami pergeseran makna dan identik dengan tempat pemakaman.

Padahal, dalam bahasa Arab istilah yang digunakan adalah maqām (مقام), yang berarti tempat berdiri atau tempat seseorang berdiri. Kata ini berasal dari akar kata qāma–yaqūmu (قام يقوم) yang bermakna berdiri atau tegak. Oleh karena itu, Maqam Ibrahim bukanlah kuburan Nabi Ibrahim, melainkan batu yang menjadi tempat beliau berdiri ketika membangun Ka'bah bersama Nabi Ismail `alaihissalām. Pemahaman terhadap makna linguistik ini penting agar tidak terjadi kekeliruan dalam memahami salah satu syiar agung di Masjidil Haram.

Lokasi Maqam Ibrahim

Secara fisik, Maqam Ibrahim berada beberapa meter di sebelah timur Ka'bah dan kini terlindungi oleh penutup kristal transparan berbentuk kubah setengah bola dengan hiasan logam berlapis emas. Menurut catatan sejarawan Makkah, terutama al-Azraqi dalam Akhbar Makkah, batu Maqam Ibrahim merupakan batu alam yang relatif lunak, berbentuk hampir persegi dengan ukuran sekitar 50 centimeter pada sisi panjang, lebar, dan tingginya. Pada bagian tengahnya terdapat dua cekungan lonjong yang diyakini sebagai bekas telapak kaki Nabi Ibrahim `alaihissalām ketika membangun Baitullah.

Keistimewaan Maqam Ibrahim

1. Batu Pijakan Nabi Ibrahim dalam Membangun Ka'bah

Maqam Ibrahim adalah batu yang menjadi pijakan Nabi Ibrahim alaihissalām ketika membangun Ka'bah bersama putranya, Nabi Ismail alaihissalām.

Dalam Al-Qur’an disebutkan :

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

"Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan fondasi-fondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): 'Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.'" (QS. Al-Baqarah: 127)

Kemudian dalam hadis juga disebutkan penjelasan ini yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Ṣaḥīḥ-nya melalui hadis dari Abdullah bin ‘Abbas radhiyallāhu ‘anhumā yang menuturkan bahwa ketika fondasi Ka'bah telah ditegakkan, Nabi Ismail terus-menerus membawa batu-batu bangunan, sedangkan Nabi Ibrahim menyusunnya hingga bangunan semakin tinggi. Pada saat itulah Nabi Ismail mendatangkan sebuah batu sebagai pijakan bagi ayahnya, lalu Nabi Ibrahim berdiri di atasnya untuk melanjutkan pembangunan sambil keduanya memanjatkan doa:

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Ya Tuhan kami, terimalah amal dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 127)

Riwayat tersebut menggambarkan bahwa Maqam Ibrahim bukan sekadar artefak sejarah, tetapi jejak nyata dari ibadah, kerja sama, dan penghambaan dua nabi dalam menegakkan rumah pertama yang dibangun untuk beribadah kepada Allah. Bekas telapak kaki Nabi Ibrahim yang tertinggal pada batu itu kemudian menjadi tanda yang terus dikenang oleh umat Islam sebagai simbol keteguhan tauhid dan ketaatan kepada Allah.

2. Āyāt Bayyināt (tanda-tanda kebesaran Allah yang nyata)

Keistimewaan Maqam Ibrahim selanjutnya ditegaskan secara langsung dalam Al-Qur'an. Allah ﷻ menjadikannya sebagai salah satu āyāt bayyināt (tanda-tanda kebesaran Allah yang nyata) di lingkungan Baitullah. Allah berfirman:

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ ۝ فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ

“Sesungguhnya rumah pertama yang dibangun untuk manusia ialah Baitullah yang berada di Bakkah (Makkah), yang penuh berkah dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam. Di dalamnya terdapat tanda-tanda yang nyata, di antaranya Maqam Ibrahim.” (QS. Ali ‘Imran: 96–97)

Penyebutan Maqam Ibrahim sebagai salah satu tanda kebesaran Allah menunjukkan bahwa kemuliaannya tidak terletak pada batu sebagai benda, melainkan pada makna yang dikandungnya, yaitu warisan tauhid, keikhlasan, dan perjuangan Nabi Ibrahim `alaihissalām dalam menaati perintah Rabb-nya.

3. Disyariatkan sebagai Tempat sholat

Selain mengabadikan kemuliaannya, Allah ﷻ juga mensyariatkan Maqam Ibrahim sebagai tempat pelaksanaan ibadah sholat. Dalam firman-Nya disebutkan:

وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى

“Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah (Ka'bah) sebagai tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Jadikanlah sebagian Maqam Ibrahim sebagai tempat sholat.” (QS. Al-Baqarah: 125)

Perintah tersebut kemudian dipraktikkan secara langsung oleh Rasulullah ﷺ. Dalam hadis sahih riwayat Imam Muslim, Jabir bin Abdullah radhiyallāhu ‘anhu menjelaskan tata cara haji Nabi ﷺ. Setelah menyelesaikan tawaf, beliau menuju Maqam Ibrahim, lalu membaca ayat “Wattakhidzū min maqāmi Ibrāhīma muṣallā”, kemudian menjadikan Maqam Ibrahim berada di antara beliau dan Ka'bah. Selanjutnya Rasulullah ﷺ melaksanakan sholat dua rakaat dengan membaca surah Al-Kāfirūn pada rakaat pertama dan Al-Ikhlāṣ pada rakaat kedua. Hadis ini menjadi landasan utama disunahkannya sholat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim setelah tawaf sebagai bentuk ittibā‘ terhadap sunnah Nabi ﷺ.

Bolehkah Mengusap dan Berdoa di Maqam Ibrahim?

Maqam Ibrahim merupakan salah satu syiar Allah yang memiliki kedudukan mulia di Masjidil Haram. Namun, kemuliaan tersebut tidak berarti bahwa seluruh bentuk penghormatan terhadapnya dibenarkan dalam syariat salah satunya yakni mengusap Maqam Ibrahim karena tidak ada dalam Al-Quran dan Hadits.

Dalam hal ini, mayoritas ulama menyatakan bahwa mengusap, menyentuh, atau bertabarruk (mencari berkah) dengan Maqam Ibrahim tidak disyariatkan. Praktik tersebut tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ, para sahabat, maupun generasi salaf, sehingga termasuk amalan yang tidak memiliki dasar dalam syariat (ghairu masyrū‘). Sedangkan berdoa di Maqam Ibrahim hukumnya diperbolehkan dan termasuk amalan baik, khususnya setelah sholat dua rakaat usai tawaf sesuai hadits yang telah disebutkan di atas. Tidak ada doa khusus yang dianjurkan; jamaah bebas memanjatkan doa kebaikan apa saja dengan ikhlas dan khusyuk tanpa mengkhususkan bacaan tertentu.

Tata Cara sholat Dua Rakaat di Belakang Maqam Ibrahim

Tata cara sholat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim mengikuti tata cara sholat pada umumnya, dengan beberapa sunnah yang dicontohkan Rasulullah ﷺ.

1. Mendatangi Maqam Ibrahim

Setelah selesai tawaf, disunnahkan mendekati Maqam Ibrahim apabila memungkinkan tanpa menyakiti atau menghalangi jamaah lain. Kemudian membaca firman Allah:

وَاتَّخِذُوا مِن مَّقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى

2. Niat sholat Dua Rakaat Tawaf

Niat merupakan amalan hati dan tidak disyariatkan melafalkannya dengan lisan. Oleh karena itu, seseorang cukup menghadirkan tekad di dalam hati bahwa ia akan melaksanakan sholat sunah dua rakaat setelah tawaf sebagai bentuk ketaatan kepada Allah ﷻ.

Apabila ingin membantu menghadirkan maksud ibadah, berikut adalah ungkapan niat sebagai terjemahan makna, bukan bacaan yang disunnahkan untuk dilafalkan:

أُصَلِّي سُنَّةَ الطَّوَافِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Ushallī sunnatat-thawāfi rak‘ataini lillāhi ta‘ālā.

“Aku berniat melaksanakan sholat sunah dua rakaat tawaf karena Allah Ta‘ālā.”

3. Rakaat pertama

Memulai sholat dengan takbiratul ihram, membaca Surah Al-Fatihah lalu disunnahkan membaca Surah Al-Kāfirūn.

4. Rakaat kedua

Setelah bangkit ke rakaat kedua, membaca Surah Al-Fatihah, kemudian disunnahkan membaca Surah Al-Ikhlāṣ:

Kedua surah tersebut dipilih karena mengandung penegasan tauhid dan pemurnian ibadah kepada Allah, selaras dengan misi Nabi Ibrahim sebagai bapak para nabi dan pelopor dakwah tauhid.

5. Mengakhiri sholat

Sholat ditutup dengan salam sebagaimana sholat dua rakaat pada umumnya.

Amalan Setelah Sholat Sunnah di Maqam Ibrahim

Setelah menyelesaikan sholat dua rakaat, para ulama menganjurkan jamaah untuk meminum air Zamzam. Selanjutnya, apabila keadaan memungkinkan dan tidak menimbulkan desakan atau menyakiti orang lain, disunnahkan kembali menuju Hajar Aswad untuk melakukan istilām (memberi isyarat atau menyentuhnya sesuai kemampuan). Seluruh rangkaian ibadah ini hendaknya dilakukan dengan menjaga adab, ketenangan, dan tidak menimbulkan mudharat bagi sesama jamaah, karena menjaga keselamatan kaum Muslimin merupakan bagian dari tujuan utama syariat.

Kesimpulan

Maqam Ibrahim merupakan salah satu syiar Allah yang menghubungkan umat Islam dengan sejarah agung pembangunan Baitullah dan perjuangan Nabi Ibrahim `alaihissalām dalam menegakkan tauhid. Keistimewaannya terletak pada makna spiritual yang dikandungnya, yaitu keteguhan iman, keikhlasan dalam beramal, serta ketaatan mutlak kepada perintah Allah ﷻ. Al-Qur'an mengabadikan Maqam Ibrahim sebagai bagian dari Āyāt Bayyināt dan mensyariatkannya sebagai tempat pelaksanaan sholat setelah tawaf, sehingga setiap muslim diajak untuk mengenang sekaligus meneladani jejak penghambaan Khalīlullāh dalam setiap manasik yang dijalankannya.

Semoga Allah ﷻ menganugerahkan kepada kita semua kesempatan untuk menjadi tamu-Nya dan berkesempatan sholat sunnah di Maqam Ibrahim dengan penuh keimanan. Āmīn.

Bagi yang ingin mengunjungi Baitullah, Anda dapat mempercayakan perjalanan ibadah haji dan umroh bersama jejak imani. jejak imani adalah travel haji dan umroh sejak tahun 2012 dengan nama PT JEJAK IMANI BERKAH BERSAMA yang sudah berizin resmi sebagai Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) dan Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK). Anda juga bisa menanyakanan dan konsultasi dengan tim jejak imani terkait kebutuhan selama ibadah di Tanah Suci.

Wallahua’lam bisshowab.

Dilihat 173 kali