Hukum Puasa Ramadhan Seorang Musafir Saat Umroh
05 March 2026 ditinjau oleh Tim Khidmat jejak imani

Dahulu safar atau perjalanan jauh dilakukan dengan sarana yang sederhana dan melelahkan sehingga keringanan untuk tidak berpuasa terasa sangat relevan. Namun sekarang perjalanan bisa dilakukan dengan kendaraan yang nyaman dan cepat. Maka, apakah tetap boleh berbuka?
Hukum Tidak Puasa Ramadhan Saat Umroh
Allah ﷻ telah memberikan keringanan (rukhsah) kepada orang yang sedang safar untuk berbuka puasa selama jarak perjalanannya mencapai batas safar, yang dalam penjelasan para ulama sekitar 82 kilometer atau lebih. Keringanan ini tidak digantungkan pada ada atau tidaknya rasa lelah, melainkan pada status safar itu sendiri.
Sebab safar memiliki ukuran yang jelas, sehingga hukum berbuka mengikuti keberadaan safar tersebut. Adapun rasa lelah atau berat adalah sesuatu yang berbeda-beda antara satu orang dengan yang lain, sehingga tidak dijadikan sebagai patokan hukum.
Dalilnya adalah firman Allah dalam Al-Qur'an:
وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
Artinya: “Barang siapa sakit atau dalam perjalanan, maka wajib menggantinya pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesulitan bagi kalian.” (QS. Al-Baqarah: 185)
Ayat ini menunjukkan bahwa selama seseorang berstatus musafir, ia mendapatkan keringanan untuk berbuka, tanpa dibedakan apakah safarnya berat atau ringan.
Kemudian Allah juga berfirman:
وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ
Artinya: “Dan berpuasa itu lebih baik bagi kalian.” (QS. Al-Baqarah: 184)
Ayat ini menjelaskan bahwa meskipun berbuka itu dibolehkan ketika safar, tetap saja berpuasa lebih utama dan lebih besar pahalanya bagi orang yang mampu melaksanakannya tanpa mudarat.
Hal ini juga ditegaskan dalam hadits yang diriwayatkan dalam Musannaf Ibn Abi Shaybah:
«مَنْ أَفْطَرَ فَرُخْصَةٌ، وَمَنْ صَامَ فَالصَّوْمُ أَفْضَلُ»
Artinya: “Siapa yang berbuka maka itu adalah keringanan, dan siapa yang berpuasa maka puasa itu lebih utama.”
Kesimpulan
Safar di zaman sekarang yang ditempuh dengan kendaraan nyaman tetap termasuk safar yang membolehkan berbuka, karena hukum itu terkait dengan status perjalanan dan jarak perjalanan itu sendiri, bukan dengan tingkat kesulitannya.
Namun apabila seorang musafir merasa kuat dan tidak mengalami kesulitan, maka berpuasa lebih utama baginya dan lebih besar pahalanya. Sebaliknya, jika ia memperkirakan adanya bahaya atau mudarat selama berpuasa dalam perjalanan, maka ia dianjurkan bahkan bisa sampai wajib untuk berbuka.
Mari kita berlomba untuk mendapat pahala sebanyak-banyaknya ketika berpuasa terutama di bulan Ramadhan. Salah satu ibadah yang memiliki banyak keutamaan di bulan Ramadhan adalan Umroh Ramadhan yang pahalanya setara dengan haji bersama Rasulullah. Bagi yang ingin melakukan perjalanan ibadah ke Tanah Suci, Anda dapat mempercayakan perjalanan umroh bersama jejak imani.
jejak imani adalah travel haji dan umroh sejak tahun 2012 dengan nama PT JEJAK IMANI BERKAH BERSAMA yang sudah berizin resmi sebagai Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) dan Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK) dari Kemenag. Anda juga bisa menanyakanan dan konsultasi dengan tim jejak imani terkait kebutuhan selama ibadah umroh di Tanah Suci.
Wallahu’alam bishawab
Dilihat 102 kali


