Hari Tasyrik : Arti, Kapan dan Larangan
25 May 2026 ditinjau oleh Tim Khidmat jejak imani

Setiap tahun, umat Islam di seluruh dunia merayakan Idul Adha dengan penuh semangat. Namun tak banyak yang menyadari bahwa setelah hari raya kurban itu, masih ada hari-hari istimewa yang memiliki keutamaan tersendiri dalam Islam. Itulah yang disebut dengan hari tasyrik. Tiga hari penuh berkah yang kerap luput dari perhatian, padahal Rasulullah secara khusus menyebutnya sebagai bagian dari hari-hari yang paling agung dalam setahun.
Apa Itu Hari Tasyrik?
Hari tasyrik adalah tiga hari setelah Idul Adha, yaitu tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah. Ibnu Faris dalam maqayis lughah dan Ibnu Mandzur dalam Lisanul Arab menjelaskan secara bahasa, penamaan hari tasyrik merujuk pada kata tasyriq yang berarti penghadapan ke arah timur, yakni arah datangnya sinar matahari. Namun secara istilah, hari tasyrik merujuk khusus pada tiga hari setelah hari nahar (10 Dzulhijjah).
Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Hari tasyrik adalah tiga hari setelah Idul Adha, yaitu 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Disebut tasyrik karena tasyrik itu berarti mendendeng atau menjemur daging kurban di terik matahari.” Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (2/456) menambahkan, penyebutan hari tasyrik berkaitan dengan kebiasaan masyarakat Arab dahulu yang menjemur daging kurban agar menjadi dendeng dan tahan lama. Di masa silam, sebelum ada pendingin atau freezer, cara satu-satunya mengawetkan daging adalah dengan menjemurnya di bawah terik matahari. Itulah asal-usul nama hari tasyrik yang melekat hingga kini..
Kapan Hari Tasyrik?
Hari tasyrik jatuh pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah setiap tahunnya, atau tiga hari penuh setelah Idul Adha. Rasulullah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari sahabat Nubaisyah Al-Hudzali:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَزَادَ فِي رِوَايَةٍ وَذِكْرٍ لِلَّهِ
“Rasulullah bersabda, ‘Hari tasyrik adalah hari makan dan minum.’ Dan dalam riwayat lain ditambah ‘dan dzikir kepada Allah.’” (HR. Muslim)
Lebih dari itu, hari Arafah, hari Idul Adha, dan hari-hari tasyrik merupakan hari ’ied kaum muslimin, sebagaimana disebutkan dalam hadits:
إنَّ يومَ عرفةَ ويومَ النَّحرِ وأيَّامَ التَّشريقِ عيدُنا أَهْلَ الإسلامِ ، وَهيَ أيَّامُ أَكْلٍ وشربٍ
“Sesungguhnya Hari Arafah, hari menyembelih (Idul Adha) dan hari-hari tasyrik adalah ’ied kami kaum muslimin. Yaitu hari untuk makan dan minum” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
Mengenai urutan keutamaannya, dalam hadits riwayat Abu Daud disebutkan bahwa hari yang paling mulia di sisi Allah adalah hari Idul Adha (yaumun nahr), kemudian yaumul qarr yaitu hari tasyrik. Hari tasyrik disebut yaumul qarr karena pada saat itu jamaah haji berdiam di Mina. Adapun hari tasyrik yang terbaik adalah yang pertama, kemudian berikutnya, dan berikutnya lagi.
Keutamaan Hari Tasyrik
Hari tasyrik bukan sekadar hari pelengkap setelah Idul Adha. Ia merupakan waktu istimewa untuk ibadah. Salah satu keutamaannya adalah bahwa hari-hari ini merupakan waktu dimana kebanyakan orang justru lalai dan sibuk dengan makan, bersenang-senang, dan melupakan dzikir. Padahal, amal yang dilakukan di waktu orang lain lalai memiliki nilai yang jauh lebih tinggi.
Rasulullah bersabda yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas:
مَا الْعَمَلُ فِي أَيَّامٍ أَفْضَلَ مِنْهَا فِي هَذِهِ
“Tidak ada amal pada hari-hari mana pun yang lebih utama daripada amal di hari-hari ini.” (HR. Bukhari)
Ibnu Abi Jamrah menegaskan hal serupa dengan menyimpulkan bahwa hadits ini menunjukkan amal apapun yang dilakukan pada hari tasyrik lebih utama daripada amal yang sama di luar hari tasyrik:
الْحَدِيثُ دَالٌّ عَلَى أَنَّ الْعَمَلَ فِي أَيَّامِ التَّشْرِيقِ أَفْضَلُ مِنَ الْعَمَلِ فِي غَيْرِهِ
“Hadits ini menunjukkan bahwa amal apapun pada hari tasyrik lebih utama daripada amal yang sama di luar hari tasyrik.’” (Fathul Bari, 2/459)
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Zad Al-Ma’ad pun menyebutkan bahwa hari tasyrik termasuk hari-hari paling utama dalam setahun. Bahkan sebagian ulama berpendapat hari-hari ini lebih utama dari sepuluh hari pertama Ramadhan, karena padanyalah berkumpul berbagai syiar Islam sekaligus: haji, kurban, takbir, dan kebersamaan umat.
Larangan di Hari Tasyrik
Begitu utamanya hari tasyrik sehingga terdapat beberapa hal yang tidak dianjurkan untuk dilakukan.
1. Dilarang Berpuasa
Larangan paling utama hari tasyrik adalah berpuasa. Hal ini disepakati oleh para ulama dari berbagai mazhab. Rasulullah bersabda:
لَا صِيَامَ فِي أَيَّامِ التَّشْرِيقِ إِلَّا لِمَنْ لَمْ يَجِدِ الْهَدْيَ
“Tidak ada puasa pada hari-hari tasyrik, kecuali bagi orang yang tidak mendapatkan hewan hadyu (dam haji).” (HR. Bukhari)
Hari tasyrik disebut hari makan dan minum, maka pada hari-hari tersebut tidak dibolehkan berpuasa apa pun, yakni pada 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Inilah pendapat yang lebih dikuatkan dalam mazhab Syafi’i. Pengecualian hanya diberikan kepada jamaah haji yang tidak mampu membayar dam, dan itupun berdasarkan nash yang jelas.
2. Tidak Menggunakan Nikmat untuk Bermaksiat
Hari tasyrik adalah hari makan dan minum sekaligus hari berdzikir kepada Allah. Maka makan dan minum di hari raya ini sejatinya dapat menopang kita untuk berdzikir dan melakukan ketaatan. Oleh karena itu, barangsiapa menggunakan nikmat Allah untuk bermaksiat, berarti ia telah kufur terhadap nikmat tersebut. Maksiat itulah yang nantinya akan menghilangkan nikmat, sedangkan bersyukur kepada Allah itulah yang akan menjauhkan bencana.
Amalan yang Dianjurkan di Hari Tasyrik
Meski hari tasyrik tidak dianjurkan untuk melaksanakan ibadah puasa namun pada 3 hari tersebut umat Muslim dianjurkan untuk melakukan beberapa amal saleh berikut.
1. Memperbanyak Takbir
Allah berfirman:
وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَّعْدُودَاتٍ
“Dan berdzikirlah kepada Allah pada hari-hari yang telah ditentukan.” (QS. Al-Baqarah: 203)
Ibnu Umar dan ulama lainnya menafsirkan ayyamul ma’dudat dalam ayat ini sebagai tiga hari tasyrik. Ibnu Abbas menjelaskan:
وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَّعْدُودَاتٍ أَيَّامُ الْعَشْرِ وَالْأَيَّامُ الْمَعْدُودَاتُ أَيَّامُ التَّشْرِيقِ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ وَأَبُو هُرَيْرَةَ يَخْرُجَانِ إِلَى السُّوقِ فِي أَيَّامِ الْعَشْرِ يُكَبِّرَانِ وَيُكَبِّرُ النَّاسُ بِتَكْبِيرِهِمَا
“…hari-hari tertentu itu adalah hari tasyrik.’ Ibnu Umar dan Abu Hurairah keluar ke pasar pada hari-hari itu sambil bertakbir, dan orang-orang pun ikut bertakbir mengikuti takbir keduanya.”
2. Memperbanyak Tahlil, Tahmid, dan Takbir
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam pembahasannya mengutip riwayat dari Ibnu Umar yang memuat tambahan perintah penting:
فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّحْمِيدِ وَالتَّكْبِيرِ
“Perbanyaklah tahlil (lā ilāha illallāh), tahmid (alḥamdulillāh), dan takbir (Allāhu Akbar) pada hari-hari tasyrik.”
3. Memperbanyak Doa
Allah berfirman:
وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Dan di antara mereka ada yang berdoa: ‘Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka.’” (QS. Al-Baqarah: 201)
Kebanyakan ulama salaf menganjurkan memperbanyak doa ini di hari-hari tasyrik, sebagaimana dikatakan oleh Ikrimah dan Atha’. Bahkan diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari yang berkhutbah di hari Idul Adha, beliau berkata, “Tiga hari setelah hari Idul Adha itulah yang disebut Allah sebagai ayyam ma’dudat. Doa pada hari tersebut tidak akan tertolak, maka segeralah berdoa dengan penuh harap kepada-Nya.”
Doa ini pula yang paling sering dibaca oleh Rasulullah sendiri, sebagaimana diriwayatkan Anas bin Malik dalam shahihain (HR. Bukhari dan Muslim). Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Kebaikan di dunia adalah ilmu dan ibadah. Kebaikan di akhirat adalah surga.”
4. Menyembelih Kurban (bagi yang Belum)
Penyembelihan kurban masih diperbolehkan selama hari tasyrik berlangsung. Imam Asy-Syafi’i berpendapat bahwa waktunya adalah sejak selesai shalat Idul Adha hingga terbenamnya matahari pada 13 Dzulhijjah. Namun mayoritas sahabat berpendapat bahwa waktu penyembelihan hanya tiga hari: hari Idul Adha dan dua hari tasyrik berikutnya, yaitu 11 dan 12 Dzulhijjah. Inilah pendapat masyhur dari Imam Ahmad, Imam Malik, dan Imam Abu Hanifah.
5. Berbagai Amal Ibadah Lainnya
Perlu diketahui bahwa ulama berbeda pendapat tentang amal mana yang paling utama di hari tasyrik. Ibnu Abi Jamrah menjelaskan bahwa Islam tidak menentukan satu amal atau dzikir tertentu pada hari tasyrik. Prinsipnya, amal apapun yang dilakukan pada hari tasyrik, sholat, sedekah, membaca Al-Qur’an, silaturahmi dan lain-lain tetap lebih utama daripada amal yang sama di luar hari tasyrik. Ini adalah keistimewaan zaman yang mulia: waktu ikut mengangkat derajat amal.
Kesimpulan
Pada prinsipnya, hari tasyrik memang waktu istimewa untuk ibadah, sehingga apapun amal ibadahnya, asal dilakukan pada waktu-waktu yang istimewa ini maka ganjarannya pun istimewa. Jangan biarkan tiga hari penuh berkah ini berlalu begitu saja hanya dengan makan dan bersenang-senang. Penuhi lisan dengan tahlil, tahmid, dan takbir; penuhi doa dengan harap kepada Allah; dan jadikan setiap momen hari tasyrik sebagai ladang pahala yang tak ternilai.
Semoga dengan mengetahui perihal hari Tasyrik ini, dapat bermanfaat bagi Anda yang sedang berencana untuk berkurban pada bulan Dzulhijjah. Ibadah lain yang dilakukan pada bulan Dzulhijjah adalah ibadah haji yang digelar setahun sekali.
Bagi Anda yang memiliki impian untuk segera melaksanakan ibadah haji, Anda bisa mempercayakannya bersama jejak imani yang memiliki program haji dengan masa tunggu lebih cepat dan telah berizin resmi sebagai Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK). Segera konsultasikan dengan tim CSO jejak imani terkait kebutuhan selama ibadah di Tanah Suci.
Wallahu a’lam.
Dilihat 628 kali


