Ingin dapat penawaran khusus untuk Anda? Konsultasi sekarang!

Puasa Muharram, Ini Niat & Panduannya

18 June 2026 ditinjau oleh Tim Khidmat jejak imani

article-thumbnail

Di antara waktu-waktu istimewa yang Allah anugerahkan dalam perjalanan satu tahun adalah bulan Muharram. Bulan ini bukan hanya menandai awal pergantian tahun Hijriah, tetapi juga termasuk salah satu dari empat bulan haram yang memiliki kemuliaan dan keutamaan khusus di sisi Allah. Karena itu, Muharram menjadi momentum terbaik bagi setiap muslim untuk memperbanyak amal saleh dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Salah satu amalan yang sangat dianjurkan pada bulan ini adalah memperbanyak puasa sunnah. Keutamaan puasa di bulan Muharram bahkan disebutkan secara khusus oleh Rasulullah ﷺ dalam sabdanya:

«أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ»

Artinya: “Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu bulan Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan betapa agungnya kedudukan bulan Muharram. Bahkan Rasulullah ﷺ menyebutnya sebagai Syahrullāh (bulan Allah), sebuah penyandaran yang menunjukkan kemuliaan dan keistimewaannya. Oleh karena itu, kaum muslimin dianjurkan untuk memanfaatkan bulan ini dengan memperbanyak puasa, khususnya pada hari Asyura dan hari-hari lainnya, sebagai bentuk ketaatan serta upaya meraih pahala yang besar dari Allah.

Kapan Saja Puasa di Bulan Muharram?

Dalam syarahnya terhadap Shahih Muslim, Imam An-Nawawi رحمه الله menjelaskan bahwa hadis di atas merupakan dalil yang sangat jelas tentang keutamaan puasa sunnah di bulan Muharram dibandingkan bulan-bulan lainnya. Keutamaan tersebut menunjukkan bahwa Muharram memiliki kedudukan yang istimewa di sisi Allah.

Imam An-Nawawi juga menyoroti penyebutan Muharram dalam hadis dengan ungkapan "Syahrullāh" (bulan Allah). Menurut beliau, penyandaran nama bulan ini kepada Allah merupakan bentuk pemuliaan dan pengagungan yang menunjukkan kemuliaan Muharram dibandingkan bulan-bulan lainnya. Sebagaimana Ka'bah disebut Baitullāh (Rumah Allah) sebagai bentuk penghormatan, demikian pula Muharram disebut Syahrullāh untuk menegaskan keutamaan dan kehormatannya di antara seluruh bulan dalam setahun.

Pada dasarnya, puasa di bulan Muharram dapat dikerjakan pada hari apa saja sesuai dengan kemampuan dan kesempatan yang dimiliki setiap muslim contohnya seperti puasa Senin Kamis, puasa ayyamul Bidh dan puasa Daud. Hadis Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh Imam Muslim tersebut menunjukkan secara jelas besarnya keutamaan berpuasa di bulan Muharram. Kaum muslimin dianjurkan untuk memperbanyak puasa sunnah pada bulan yang mulia ini sebagai bentuk ketaatan dan upaya meraih pahala yang besar dari Allah ﷻ.

Puasa Tasu’a Asyura (Anjuran minimal)

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa keutamaan puasa tidak berarti seseorang dianjurkan berpuasa sebulan penuh sebagaimana puasa Ramadhan. Sebab, berdasarkan riwayat yang sahih, Rasulullah ﷺ tidak pernah menyempurnakan puasa satu bulan penuh selain Ramadhan. Oleh karena itu, yang dianjurkan adalah memperbanyak puasa sunnah di bulan Muharram sesuai kemampuan, terutama pada hari Asyura dan hari sebelumnya, yaitu Tasu'a. Dengan demikian, seorang muslim dapat meraih keutamaan yang besar dari bulan yang mulia ini sekaligus mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ secara tepat.

Puasa Muharram Berapa Hari & Ketentuannya

Hadis-hadis yang sahih menunjukkan bahwa syariat menganjurkan puasa Muharram setidaknya 2 hari yakni pada tanggal 9 dan 10 Muharram. Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya :

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ». قَالَ: فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ.

Artinya: “Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa ketika Rasulullah ﷺ berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa pada hari tersebut, mereka berkata, “Wahai Rasulullah, itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Jika aku masih hidup hingga tahun depan, insya Allah aku akan berpuasa pada hari kesembilan (Muharram) juga.” Namun belum tiba Muharram tahun berikutnya, Rasulullah ﷺ telah wafat.

Tingkatan Puasa Asyura Muharram

Imam Ibnul Qayyim رحمه الله menjelaskan dalam kitab Zādul Ma‘ād bahwa puasa Asyura memiliki beberapa tingkatan keutamaan.

  1. Tingkatan yang paling sempurna adalah berpuasa pada tanggal 9, 10 dan 11 Muharram sekaligus.
  2. Tingkatan berikutnya adalah berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram, dan inilah yang paling banyak didukung oleh riwayat-riwayat hadis.
  3. Adapun tingkatan setelahnya adalah berpuasa hanya pada tanggal 10 Muharram saja.

Sementara itu, mengkhususkan puasa hanya pada tanggal 9 Muharram tanpa berpuasa pada hari Asyura dinilai oleh Ibnul Qayyim sebagai pemahaman yang kurang tepat terhadap hadis-hadis yang ada. Menurut beliau, pemahaman tersebut tidak sejalan dengan petunjuk bahasa maupun tuntunan syariat. Oleh karena itu, yang lebih utama adalah menggabungkan puasa Tasu'a dan Asyura, atau bahkan menambahkannya dengan puasa pada tanggal 11 Muharram agar semakin sempurna dalam mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ.

Niat Puasa Muharram

Sebagaimana telah dipahami oleh kaum muslimin, niat merupakan amalan hati yang menjadi pembeda antara ibadah dan kebiasaan. Oleh karena itu, tempat niat sesungguhnya adalah di dalam hati, sebagaimana yang telah disepakati oleh para ulama. Namun, melafadzkan niat diperbolehkan oleh sebagian ulama sebagai sarana untuk membantu menghadirkan kesungguhan dan memantapkan hati sebelum melaksanakan ibadah. Adapun lafadz niat puasa sunnah Tasu'a, Asyura, dan puasa tanggal 11 Muharram adalah sebagai berikut:

Niat Puasa Tasu'a (9 Muharram)

نَوَيْتُ صَوْمَ تَاسُوعَاءَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى

Artinya: “Saya berniat melaksanakan puasa sunnah Tasu'a karena Allah Ta'ala.”

Niat Puasa Asyura (10 Muharram)

نَوَيْتُ صَوْمَ عَاشُورَاءَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى

Artinya: “Saya berniat melaksanakan puasa sunnah Asyura karena Allah Ta'ala.”

Niat Puasa Tanggal 11 Muharram

نَوَيْتُ صَوْمَ الْيَوْمِ الْحَادِيَ عَشَرَ مِنَ الْمُحَرَّمِ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى

Artinya: “Saya berniat melaksanakan puasa sunnah pada hari kesebelas bulan Muharram karena Allah Ta'ala.”

Perlu diketahui bahwa tidak ada lafadz niat khusus yang diriwayatkan secara sahih dari Rasulullah ﷺ untuk puasa Tasu'a maupun Asyura. Lafadz di atas merupakan susunan niat yang umum digunakan untuk membantu menghadirkan maksud ibadah di dalam hati, sedangkan yang menjadi syarat sah niat adalah adanya kehendak dan kesadaran dalam hati untuk berpuasa karena Allah ﷻ.

Kesimpulan

Bulan Muharram merupakan kesempatan berharga yang Allah ﷻ berikan kepada hamba-hamba-Nya untuk membuka lembaran tahun baru dengan amal kebaikan dan ketakwaan. Di antara amalan yang paling dianjurkan pada bulan ini adalah memperbanyak puasa sunnah, khususnya puasa Tasu'a (9 Muharram) dan Asyura (10 Muharram) yang memiliki landasan kuat dari sunnah Rasulullah ﷺ. Bahkan para ulama menjelaskan bahwa semakin sempurna seseorang menggabungkan puasa pada tanggal 9, 10, dan 11 Muharram, semakin sempurna pula upayanya dalam mengikuti petunjuk Nabi ﷺ dan meraih keutamaan yang dijanjikan oleh Allah.

Sudah sepantasnya setiap muslim memanfaatkan hari-hari mulia ini dengan memperbanyak ibadah, memperbaiki diri dan memperkuat hubungan dengan Allah ﷻ. Jangan sampai keutamaan Muharram berlalu begitu saja tanpa meninggalkan bekas dalam kehidupan kita. Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk menghidupkan bulan yang penuh keberkahan ini dengan puasa, dzikir, tilawah Al-Qur'an, umroh serta berbagai amal saleh lainnya, dan menjadikannya sebagai awal yang baik menuju kehidupan yang lebih dekat kepada-Nya serta lebih istiqamah dalam ketaatan. آمين يا رب العالمين.

Semoga Allah mudahkan kita untuk bisa mengerjakan sunnah Rasulullah, sebagai langkah terbaik untuk mendekatkan diri pada-Nya. Selain puasa, salah satu amalan sunnah yang dapat dilakukan di bulan Muharram adalah umroh.

Bagi yang ingin melakukan perjalanan ibadah ke Tanah Suci, Anda dapat mempercayakan perjalanan ibadah haji dan umroh bersama jejak imani.

jejak imani adalah travel haji dan umroh sejak tahun 2012 dengan nama PT JEJAK IMANI BERKAH BERSAMA yang sudah berizin resmi sebagai Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) dan Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK) dari Kemenag. Anda juga bisa menanyakanan dan konsultasi dengan tim jejak imani terkait kebutuhan selama ibadah umroh di Tanah Suci.

Semoga bermanfaat!

Dilihat 14 kali