Ini Cara Wudhu Saat Puasa, Bolehkah Berkumur?
08 January 2026 ditinjau oleh Tim Khidmat jejak imani

Menjalankan ibadah puasa artinya ada beberapa larangan yang perlu dihindari seperti memasukkan sesuatu kedalam tubuh melalui lubang, namun bagaimana berkumur dalam rangkaian wudhu saat berpuasa?
Dalam pelaksanaannya, wudhu sebagai bagian dari thaharah menjadi amalan yang senantiasa menyertai ibadah selama berpuasa. Meski demikian, tatacara berwudhu perlu diperhatikan, khususnya ketika berkumur (madhmadhah) dan membersihkan hidung (istinsyāq), yang kerap dipandang berpotensi mempengaruhi keabsahan puasa. Oleh karena itu, memahami batas-batasnya tidak sekadar berkaitan dengan tata cara wudhu saat puasa, melainkan juga bentuk pengelolaan ibadah agar puasa tetap terpelihara sesuai tuntunan syariat.
Apakah Boleh Berkumur Saat Puasa?
Dalam perspektif fiqh, orang yang berpuasa diperintahkan untuk tidak melakukan berkumur (madhmadhah) dan membersihkan hidung (istinsyāq) secara berlebihan karena adanya potensi masuknya air ke tenggorokan yang dapat mempengaruhi puasa. Ketentuan ini didasarkan pada hadis Nabi Muhammad ﷺ yang menganjurkan kesungguhan dalam membersihkan hidung (istinsyāq), dengan pengecualian bagi orang yang sedang berpuasa. Beliau ﷺ bersabda :
وبالغ في الاستنشاق إلا أن تكون صائماً
Artinya : “Bersungguh-sungguhlah dalam menghirup air ke hidung, kecuali jika engkau sedang berpuasa.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi; dinilai hasan sahih).
Dalam Fatwa Nurun ‘ala Ad-Darbi, Syaikh Ibn Baaz mengemukakan : “Berkumur (madhmadhah) dan menghirup air ke hidung (istinsyāq), baik di bulan Ramadan maupun di luar Ramadan, hukumnya wajib menurut pendapat yang paling kuat. Oleh karena itu, setiap Muslim wajib melakukan berkumur dan istinsyāq, baik saat berpuasa maupun tidak, dalam wudhu maupun mandi wajib. Inilah kewajiban menurut pendapat yang paling sahih di kalangan para ulama.
Akan tetapi, ketika berada di bulan Ramadhan, seseorang tidak dianjurkan untuk berlebihan. Ia cukup berkumur dengan cara yang wajar agar air tidak masuk ke dalam perutnya, dan menghirup air ke hidung tanpa berlebihan, sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih: “Bersungguh-sungguhlah dalam menghirup air ke hidung, kecuali jika engkau sedang berpuasa.” Apabila seseorang sedang berpuasa, maka ia tidak berlebihan dalam istinsyāq, cukup melakukannya dua atau tiga kali—dan yang lebih utama adalah tiga kali—demikian pula dalam berkumur, namun tanpa sikap berlebihan, agar air tidak masuk ke dalam perutnya.”
Ragu-ragu Air Masuk Saat Berkumur, Bagaimana Hukumnya?
Selanjutnya, bagaimana ketentuan hukum bagi seseorang yang sedang berpuasa ketika berwudhu, lalu muncul keraguan atau terjadi secara tidak sengaja kemungkinan masuknya air ke dalam tenggorokan?
Apabila seorang yang berpuasa mengalami keraguan terkait masuknya sesuatu ke tenggorokan, maka keraguan tersebut tidak menimbulkan konsekuensi hukum apa pun, sehingga puasa tetap dinilai sah dan tidak mewajibkan qadha. Bahkan dalam kondisi air benar-benar masuk ke tenggorokan tanpa unsur kesengajaan dan tanpa sikap berlebihan dalam penggunaan air, hal tersebut tidak membatalkan puasa menurut pendapat yang rajih di kalangan fuqaha.
Ibnu Qudamah dalam al-Mughnī menjelaskan bahwa apabila seseorang berkumur atau melakukan istinsyāq dalam rangka bersuci, lalu air masuk ke tenggorokannya tanpa disengaja dan tanpa berlebihan, maka tidak ada kewajiban hukum yang dibebankan kepadanya. Pendapat ini juga dikemukakan oleh al-Auzā‘ī, Ishaq, dan asy-Syafi‘i dalam salah satu qaul-nya, serta diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas.
Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa praktik menghirup air ke hidung dan berkumur saat puasa tetap diperbolehkan asalkan tidak berlebihan. Hal tersebut merupakan bagian penting dari kesempurnaan wudhu. Kendati demikian, berkumur saat puasa harus dilakukan secara proporsional dan tidak berlebihan, guna menghindari masuknya air ke tenggorokan hingga berpotensi membatalkan puasa. Semoga Allah ﷻ senantiasa menganugerahkan taufiq dan kemampuan kepada kita untuk melaksanakan ibadah puasa secara optimal di bulan yang penuh keberkahan ini. Aamiiin.
Selain amalan-amalan lailatul qadar di atas, salah satu ibadah yang memiliki banyak keutamaan di bulan Ramadhan adalan Umroh Ramadhan yang pahalanya setara dengan haji bersama Rasulullah. Bagi Anda yang ingin mendapat pahala tersebut, dapat mempercayakan perjalanan umroh bersama jejak imani.
jejak imani adalah travel haji dan umroh sejak tahun 2012 dengan nama PT JEJAK IMANI BERKAH BERSAMA yang sudah berizin resmi sebagai Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) dan Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK) dari Kemenag. Anda juga bisa menanyakanan dan konsultasi dengan tim jejak imani terkait kebutuhan selama ibadah umroh di Tanah Suci.
Wallahu a’lam.
Dilihat 105 kali


