Biografi Imam Syafi’i, Perjalanan Menjadi Imam Besar
16 July 2025 ditinjau oleh Tim Khidmat jejak imani

Nama Imam Syafi'i sudah tidak asing terdengar di kalangan umat Islam. Beliau merupakan salah satu imam dari 4 imam besar mazhab di Islam yang ilmunya masih berpengaruh dan masih kita rasakan sampai saat ini. Beliau tidak hanya ahli agama yang menjadi dasar salah satu mazhab besar di Islam tapi juga memiliki banyak ilmu lain seperti hadis, tafsir, bahasa hingga sains. Mari bersama-sama kita telusuri biografi Imam Syafi'i, seorang imam besar dalam Islam.
Nasab Imam Syafi’i
Imam Syafi'i memiliki nama asli Muhammad bin Idris al-Syafi’i lahir pada bulan Rajab tahun 150 H (767 M) di Gaza, Palestina. Ia berasal dari keturunan Quraisy dan bersambung nasabnya dengan Nabi Muhammad ﷺ melalui jalur Abdul Manaf. Ayahnya wafat saat ia masih kecil dan ibunya Fatimah al-Azdiyyah membawanya kembali ke Makkah agar ia tumbuh dalam lingkungan yang menjaga garis keturunan dan agamanya.
Perjalanan Ilmu Imam Syafi’i
Sejak kecil, Imam Syafi’i menunjukkan kecerdasan luar biasa. Imam Syafi'i dikenal akan kemampuannya dalam menghafal, saat memasuki usia 7 tahun beliau sudah menghafal Al-Qur’an. Ia bahkan belajar dengan mengandalkan kemurahan hati para guru karena keterbatasan biaya. Ia kemudian mempelajari tafsir, hadis, bahasa Arab dan sastra, termasuk belajar langsung di tengah suku Hudzail, kaum Arab yang dikenal sangat fasih.
Baca juga : Imam Syafi'i Khatam Al-Qur’an Dua Kali Sehari, Cek Caranya!
Ibunya mengarahkan Imam Syafi’i kepada para ulama besar. Di Makkah, ia berguru pada Muslim bin Khalid az-Zanji, yang bahkan mengizinkannya memberi fatwa. Imam Syafi'i lalu menuntut ilmu ke Madinah, belajar langsung dari Imam Malik setelah terlebih dahulu menghafal kitab Al-Muwaththa’. Ia juga menimba ilmu ke Kufah (Irak), menuntut ilmu kepada murid-murid Imam Abu Hanifah, seperti Muhammad bin Hasan asy-Syaibani dan Abu Yusuf. Tak sampai di situ, perjalanan menuntut ilmu Imam Syafi'i terus berlanjut hingga ia berkelana ke Persia, Yaman dan wilayah lain, selama lebih dari dua tahun.
Ia tak hanya unggul dalam ilmu, tetapi juga dalam kemampuan memanah dan berkuda. Ia pernah berkata, “Aku menekuni dua hal: ilmu dan memanah. Dalam memanah, aku bisa mengenai 10 dari 10 target.”
Guru dan Murid Imam Syafi’i
Imam Syafi’i belajar dari banyak ulama besar:
- Guru di Makkah: Sufyan bin ‘Uyainah, Muslim bin Khalid dan lainnya.
- Guru di Madinah: Imam Malik dan para ulama Anshar.
- Guru di Kufah: murid-murid Imam Hanafi seperti Muhammad bin Hasan dan Abu Yusuf.
- Guru di Yaman: belajar dari ulama Syam dan Mesir seperti yang meriwayatkan dari Imam Laits dan Imam Awza’i.
Imam Syafi’i juga memiliki murid-murid yang luar biasa. Berikut beberapa murid beliau yang terkenal adalah:
- Ahmad bin Hanbal (pendiri Mazhab Hanbali),
- Al-Muzani (penulis dasar mazhab),
- Al-Humaidi,
- Al-Rabi’ bin Sulaiman,
- dan tokoh-tokoh sufi awal seperti Al-Harits al-Muhasibi.
Pernah Menjabat dan Menghadapi Ujian
Imam Syafi’i sempat diangkat menjadi pejabat di Najran, Yaman. Namun kejujuran dan integritasnya membuat ia bermasalah dengan pejabat zalim. Ia difitnah ikut pemberontakan, ditangkap dan dihadapkan ke Khalifah Harun ar-Rasyid dalam kondisi dirantai. Ia hampir dihukum mati, namun diselamatkan oleh kesaksian ulama besar Muhammad bin Hasan. Dari sini, pamornya justru makin naik. Imam Syafi’i menolak jabatan tinggi yang ditawarkan, lebih memilih menekuni ilmu. Ia bahkan menyedekahkan setengah dari harta yang diberikan khalifah untuk kaum miskin seusai wasiat ibunya.
Setelah peristiwa berat yang hampir merenggut nyawanya, Imam Syafi’i tidak larut dalam ketakutan atau trauma. Justru dari situ, ia makin teguh menapaki jalan ilmu. Ia menolak tawaran kekuasaan dan jabatan dari khalifah, memilih jalan yang lebih sunyi namun penuh cahaya: menjadi pelayan ilmu dan umat. Ia pun kembali menekuni bidang-bidang ilmu seperti fikih, hadis, tafsir, bahkan ilmu bahasa, matematika, dan sains alami. Baginya, ilmu adalah pelita hidup, bukan alat untuk kekuasaan.
Baca juga : Imam Syafi'i Khatam Al-Qur’an Dua Kali Sehari, Cek Caranya!
Karya Imam Syafi'i
Imam Syafi’i menjadi pusat perhatian para penuntut ilmu. Masjidil Haram dipenuhi para murid yang duduk melingkar, menyimak kalimat-kalimatnya yang tegas namun indah. Di tengah-tengah majelisnya, lahir pemikiran-pemikiran baru yang cemerlang. Ia tidak hanya menguasai dua mazhab besar yang ada saat itu Mazhab Hanafi dan Maliki tetapi juga menyusun sebuah pendekatan baru yang menjadi dasar berdirinya Mazhab Syafi’i.
Imam Syafi’i dikenal sebagai ulama pertama yang meletakkan kaidah-kaidah sistematis dalam ilmu ushul fikih melalui karya monumentalnya, Ar-Risalah. Karya ini bukan hanya buku, tapi peta intelektual yang mengajarkan bagaimana merumuskan hukum Islam secara ilmiah, logis, dan terstruktur. Dari situ, muncul pondasi kuat bagi perkembangan ilmu fikih dalam abad-abad selanjutnya.
Selain seorang fakih, ia juga dikenal sebagai ahli bahasa dan penyair ulung. Kecintaannya pada bahasa Arab membawanya menelusuri keindahan syair-syair pra-Islam, dan memperkaya pemahamannya terhadap Al-Qur’an dan hadis. Bahkan ulama besar seperti Al-Ashma’i, pakar sastra Arab, mengakui kelebihan Imam Syafi’i dalam membenahi syair-syair suku Hudzail yang dikenal paling fasih di antara bangsa Arab.
Imam Syafi’i tidak hanya mengajarkan ilmu di tanah Hijaz. Ia juga menyebarkan ilmunya ke Irak dan Mesir. Di setiap tempat yang ia singgahi, lahirlah murid-murid besar yang kelak menjadi penyambung ilmunya. Di antara mereka adalah Ahmad bin Hanbal, yang kelak menjadi pendiri mazhab keempat dalam Ahlus Sunnah, serta Al-Muzani dan Al-Humaidi, yang dikenal sebagai perumus utama madzhab Syafi’i pasca wafatnya sang imam.
Di Mesir, ia menghabiskan tahun-tahun terakhir hidupnya. Di sana pula ia menulis ulang dan menyempurnakan pandangan-pandangan fikihnya, yang kini dikenal sebagai Qaul Jadid (pendapat baru) dalam mazhab Syafi’i.
Wafatnya Imam Syafi'i
Imam Syafi'i wafat dan dimakamkan di Kairo pada tahun 204 H (820 M). Beliau wafat pada usia 54 tahun. Hingga kini, makam Imam Syafi'i masih diziarahi para pecinta ilmu dari seluruh dunia, sebagai penghormatan kepada seorang imam besar yang meninggalkan warisan ilmu yang tak lekang oleh zaman.
Baca juga : Fakta Patung Sphinx di Mesir, Kenapa Hidungnya Hilang?
Imam Syafi’i bukan hanya nama dalam sejarah. Ia adalah mercusuar ilmu, teladan adab, dan simbol keberanian intelektual dalam membela kebenaran. Pemikirannya hidup di tengah-tengah umat, doanya mengalir dari lisan jutaan Muslim dalam shalat dan doa, dan perjuangannya menjadi teladan bagi siapa pun yang mencintai ilmu dan ingin hidup berarti.
Perjuangan dan ilmu imam Syafi’i dapat kita rasakan hingga saat ini, salah satunya dalam ibadah umroh. Ada baiknya jika mampu secara finansial dan fisik dibarengi dengan ikhtiar mencari paket haji dan umroh yang sesuai, seperti paket haji atau umroh di jejak imani.
Tunggu apalagi? Yuk segera konsultasikan kebutuhan ibadah Anda bersama tim jejak imani dengan klik tombol konsultasi gratis di bawah ini.
Wallahua’lam bisshowab.
Dilihat 3216 kali


